Jadi, bermula dari Putri Ayu gabut sekali pada liburan akhir tahunnya. Dia ingin sekali tadabur alam sendiri tapi, yakin kalau dia ngga akan dapat izin kalau benar - benar seorang diri. Akhirnya Putri yang sok ide mendapatkan ilham untuk bertanya ke kakak kelasnya, ada apa ajasih di Malang ? dan karena di Malang masih banyak teman yang bisa di repotin especially my beloved friend disana, her name is Firyal ( insert love emoticon right here )
Dengan tekad ingin menemukan jati diri, dengan mengeksplor keindahan alam dan menyatu dengan alam (?) Putri akhirnya memutuskan ke Malang, dan mengontongi izin yang biasanya sulit didapatkan! Yuhu
Sedikit capek ya saya cerita kayak gitu...ganti - ganti.
Tanggal 26 Desember 2016, saya berangkat dengan hati yang jumpalitan rasanya, karena bahagia akhirnya diperbolehkan jalan sendiri. Seneng sekali, banget, entahlah mungkin lebih dari itu. Terimakasih saya ucapkan for both my parents yang telah mempercayaiku.
Tiba di Malang, saya langsung naik taksi untuk menghampiri Firyal di Batu. Sempet takut, karena ini pertama kali, tapi alhamdulillah Bapak supirnya baik sekali, dimulai dari saya lupa taruh dompet, sampai pada Beliau sabar dengan kemacetan menurut Malang. Sepanjang perjalanan saya mendengarkan percakapan beliau dengan rekannya lewat mikrofon yang entah apa namanya di taksi itu. Rekannya seperti mengingatkan untuk jangan lewat jalan yang kita tempuh, tapi Bapak tersebut membalasa dengan, "Ya ngga apa - apa, kita jalani saja, ya kalau macet mau diapakan, dinikmati saja." Entah kenapa kata - kata itu menggugah dan tertanam di benak saya. Sampai sekarang.
Tiba di Batu, saya disambut oleh Kakek Firyal, yang saya kira Omnya karena terlihat muda. Beliau sangat baik dan mengizinkan saya untuk tertidur sebentar di ruang atas, sambil menunggu kedatangan Firyal. Setelah saya terbangun, pas sekali Firyal datang. Dan tidak lama setelah saya bertegur sapa dan berbagi cerita dengan kerabat Firyal, saya beserta Firyal dan beberapa dari anggota keluarganya pulang menuju Watumujur. Disana saya tertidur lelap menunggu keseruan esok hari ditemani Firyal!
Keesokan harinya saya ditemani wanita baik hati bernama Firyal untuk berkeliling sekitar Malang, saya datang ke Malang tanpa rencana kemana. Saya hanya membiarkan pada takdir yang akan membawa saya kemana. Saya ingin ke Wisma Tumapel, tapi ternyata wisma tesebut sedang dalam pembangunan, it was sad. Tapi setelah saya curhat sama mas gojek, kalau saya juga ingin ke Jodipan, dia langsung menawarkan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Jodipan dengan hanya membayar dua ribu rupiah, nice deal.
Yang saya foto bersebrangan dengan Jodipan mirip tapi, kampung sebelah ini merupakan kampung 3D. Panas tapi happiness was deeply felt.
Pada malam harinya saya mengunjungi Paralayang, it was very cold, tapi pemandangannya cantik.
Dari satu hari di Malang, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa orang - orang Malang, atau yang tinggal di Malang, sangat ramah. Dimulai dari Bapak Taksi, Mas Gojek, dan Mas yang mengantar saya dan Firyal selama perjalan sore ke malam, kami menyewa mobil dan Beliau sebagai supirnya, sangat ramah, dan seperti kenal lama. Dari sana saya pergi ke Batu Night Spectacular dan juga alun - alun Kota Batu. Menjelang pagi kami baru sampai, dan langsung merebah pada kasur dan tertidur.
Pada hari kedua, kali ini tour guide saya Kak Rama, my Senior High senior (?). No plans, akhirnya setelah kebingungan, Kak Rama had an idea untuk kita ke Coban Rais, it was really, really, really nice I could say karena Dia bilang, perjalanan 1 KM itu hampir mirip seperti perjalanan menuju puncak gunung. Karena saya belum pernah naik gunung dan sangat mendambakan sekali perjalanan tersebut.
Di sepanjang jalan, saya sangat amat senang. I can't even describe how it was. Saya sangat amat senang dikelilingi daun hijau, udaranya pun segar dan suara air yang mengalir, indah rasanya untuk memikirkannya kembali saja.
Perjalanannya cukup panjang dan berliku, saya harus melewati beberapa sungai kecil yang berbatu, dan tanah yang licin, tapi ditemani dengan suara suara alam, siapa yang tidak terpana ? Saya menikmati setiap liku perjalanan. Saya tidak merasa lelah, karena apa yang hadir kala itu, seolah melebihi rasa lelah saya. Walaupun saya selalu bertanya pada Kak Rama, kapan kita sampai ? Dan accusing him that he was lying about that 1 kilometer. Ahaha maafkan.
Saat sudah sampai, saya dan Kak Rama duduk sebentar dan menikmati pemandangan air terjun yang sangat tinggi, airnya dingin dan jernih. It was nice, but I was more enjoyed mengenai perjalanan yang kami tempuh. Tidak lama setelah kami sampai, berfoto, dan menikmati sebentar. Kami langsung kembali. Sebelum berangkat ke tempat yang lain, saya dan Kak Rama istirahat sebentar di warung kopi disana saya bertemu dan had a nice talk with Mba yang saya lupa namanya. It was nice to talk with her. And after that, walaupun waktu sudah hampir sore, tapi saya masih ingin menjelajah, entah kemana. Dan akhirnya saya putuskan untuk ke sumber air, Sumber Jenon namanya.
Jarak antara Coban Rais dan Sumber Jenon, sangatlah jauh. Letak mereka sangat bertolak belakang, yang satu di atas dan yang satu di bawah. Tapi Kak Rama, mengiyakan permintaan saya. I was thankful.
Selama perjalanan dengan menggunakan motor Kak Rama, walaupun sakit rasanya ( you know what I mean ) tapi I totally enjoyed it, udara Malang sangat segar, dan pemandangan gunung selama perjalanan sangat membuat kupu kupu di hati. Hamparan tanaman dan padi disekitar perjalan juga menjadi hiburan dan penyegar bagi hati dan mata. If you could see my face in the entire trip, I was smiling so brightly! Melewati rumah - rumah warga yang sepi, wangi, dan udaranya segar, damai sekali.
Sampai pada Sumber Jenon, tempatnya sangat sepi tidak banyak pengunjung, entah memang seperti itu selalu atau hanya pada hari itu saja. Pada pertamanya saya dan Kak Rama sedikit kecewa, well, sepertinya cuma Kak Rama, karena keadaan asli dan yang difoto jauh berbeda, karena yang ada pada foto sangat sparkling airnya. Ahahah I am the fool one kayaknya ya, karena percaya dengan foto. Tapi tidak sepenuhnya mengecewakan, karena ketika saya mendekat pada sumber airnya, airnya berwarna hijau, dan yang membuat saya terpana adalah, di dalam kolam tersebut masih ada ikannya! Ahahah saya tau, saya norak, tapi yang membuat saya terpana adalah ada beberapa orang yang berenang disana, dengan ikan - ikan tersebut! Saya terpana pun takut karena ikannya cukup besar. Tapi pada akhirnya saya menyelupkan dua pasang kaki saya, airnya dingin. Tak lama, Kak Rama akhirnya ikut menyelupkan kaki - kaki nya. We had a talk ditemani dengan suara petikan gitar dan senandung dari beberapa pengunjung yang sepertinya sekolompok teman, disana. It was nice, saya mau lagi!
Sebelum matahari terbenam, kami harus kembali, karena takut jikalau harus pulang dengan keaadan jalanan yang gelap. Alhamdulillah kami sampai kota dengan matahari hampir benar - benar terbenam.
Dalam perjalanan, saya melewati pasar tradisional, yang pemandangannya semenakjubkan ini! Allah bless Malang. Setelah sampai kota, saya dan Kak Rama mampir pada tempat kopi, disini banyak, dan harganya sangat amat terjangkau, untuk satu gelas kopi, cukup kamu keluarkan tiga belas ribu rupiah. Hampir 1/3 dari harga kopi di Jakarta! Oiya makanan di Malang selain enak juga murah, dengan lima ribu, saya pernah mendaptkan satu piring nasi dengan satu potongan ayam juga tahu dan timunnya! Ini ada di Nelongso namanya.
Setelah mampir, saya diantar pulang, dan had a chit chat with Firyal! We then sleep after had a talk.
Keesokan harinya, saya dan Kak Rama, lagi, lagi, memutuskan untuk ke Pantai Bantol. Pantai Bantol termasuk pantai yang jarang dikunjungi, saya suka hal - hal yang belum banyak orang tau. Perjalanannya sekitar 2 jam, kami harus menempuh 64 KM, sekarang saya baru menyadari bahwa itu jauh. Tapi perjalanan yang saya tempuh benar - benar mengasyikan, saya melewati hamparan bukit hijau, terasering, perumahan warga, hal itu terus berulang, sampai pada akhirnya kami menghentikan perjalanan karena kami kehilangan navigasi, sulit untuk ke Pantai Bantol, karena tidak banyak orang yang tau, bahakan orang Malangnya sendiri juga tidak banyak yang tau dan juga akses untuk ke pantai tersebut masih sulit, jalannya masih bebatuan dan haus melewati hutan jati. Saya berhenti untuk bertanya, namun yang saya tanya benar orang tua Malang, jadi Beliau menjawabnya dengan bahasa Jawa yang saya tidak mengerti. Tapi sepertinya Kak Rama mengerti, tapi still we didn't get the way. Dan pada akhirnya kami sampai pada Pantai Ngliyep.
It was nice to discover around the beach, karena setiap sudut gambaran yang saya lihat berbeda - beda, dari satu sisi ombak pantainya tidal terlalu kencang, tapi disisi lain berbeda.
Setelah menjelang sore kami kembali pulang dan melewati jalan yang sama dan mengarungi waktu yang durasinya hampir mirip. Lalu saya pulang dan bertemu dengan beberapa teman. We had a good talk with much laughs. That was the last night saya di Malang. Karena besoknya saya harus pulang ke Jakarta.
It was really great experience for me, that trip was the first trip I went alone without my family member. Unforgettable trip!