Senin, 08 Oktober 2018

Sebuah Perumpamaan

by Utarakansaja

Banyak macam bunga di kebun,
ada Mawar, Melati, Rosella, Kamboja, Adenium,
dan lainnya.

Kala itu, kamboja sangat populer,
banyak orang datang untuk membelinya.

Adenium merasa iri ingin juga diminati,
Ia berpikir bahwa Ia tidak terlalu menarik,
lalu, Ia berlagak seolah - olah Ia Kamboja,

Pada satu hari, ada pembeli datang dari jauh,
"Saya ingin membeli ini!" Sembari mengambil Adenium,
yang dikiranya Kamboja.

Dia tidak begitu paham mengenai apa yang Dia cari,
'terlihat seperti Kamboja' pikirnya tanpa ambil pusing.

Lalu, dibawalah Adenium yang Dia kira Kamboja,
dan Adenium masih berlagak layaknya Kamboja.

Sampai pada tempat yang baru,
Ia diperlakukan sebagaimana Kamboja harus diperlakukan,
padahal Ia adalah Adenium.

Dari waktu ke waktu Ia mencoba bertahan,
namun perlahan Ia mati tidak sanggup,
"Seharusnya aku tidak berlagak seperti Kamboja."
Ia mati dalam penyesalan.

Di lain waktu, datang seorang pembeli dari jauh lainnya,
yang telah habiskan banyak waktu dan tenaga,
untuk mencari Adenium,
Dia habiskan waktu untuk menjalajahi Adenium,
Dia tahu betul bagaimana Adenium harus dirawat,
tapi sayang seribu sayang yang Dia cari sudah diambil,
dan mati sia - sia.

--------------------------------------------------------------------

Cerita tadi sebenarnya merupakan sebuah perumpamaan atau lebih tepatnya sebuah peng-ibarat-an. 

Layaknya kebun yang diisi dengan bunga - bunga yang beragam seperti Bunga Matahari, Bunga Rosella,  ataupun Adenium, yang memiliki kecantikannya dan maanfaatnya masing - masing. Dunia juga begitu adanya. Manusia ( Khususnya perempuan )  memiliki keragaman rupa, sikap, dan lain hal yang membuat setiap manusianya itu sendiri bervariasi. 

Tapi terkadang, karena adanya suatu standarisasi ( yang tidak terlihat di permukaan tapi bisa dirasakan ) untuk dikatakan 'cantik', 'indah', dan saudaranya. Bunga - bunga terkadang iri dan diam - diam berharap menjadi bunga yang lain. Karena sebagian bunga berpikir, "Oh mungkin aku harus jadi Kamboja ( dikarenakan Kamboja memiliki semua karakteristik untuk dikatakan Indah menurut banyak pembeli ), sehingga pembeli akan tertarik untuk membeliku." Untuk sekuntum Adenium berubah menjadi Kamboja, rasanya terlalu jauh, karena Dia harus berubah, artinya Dia akan menjadi sesuatu yang bukan dirinya, Dia akan terpaksa berbohong, bahkan pada dirinya sendiri. Akan lebih baik jika seharusnya Dia berharap, "Aku akan menjadi Adenium yang lebih segar, yang tumbuh lebih tinggi dan sehat." Sekali lagi, bukan menjadi bunga yang lain. 

Certita diatas ada kaitannya dengan hal berwangi cinta, lebih tepatnya, berkaitan dengan menemukan sesosok manusia, sebut saja Ia, Jodoh. Walaupun tidak setiap bunga mendambakan pembeli, tapi banyak dari bunga - bunga yang ingin menemukan pemiliknya yang baru. Sampai - sampai Dia berani untuk mengubah dirinya, demi Ia, Si Jodoh. Tapi disitulah bunga harus berhati - hati. 

Karena Adenium selama ini berpura - pura menjadi Kamboja, maka pemiliknya melihat Dia sebagai Kamboja. Padahal Dia bukanlah Kamboja. Lambat laun, Dia pasti akan merasa jenuh, Dia pasti akan merasa terperangkap.

Akan lebih Indah, jika dari awal Adenium tidak berpura - pura, terus menggali potensi untuk tumbuh lebih indah dalam keunikannya sendiri dan bersabar, Dia pasti akan menemukan pemilik yang memang mencari Dia, Adenium, yang benar - benar tau bahwa bunga yang Ia butuhkan adalah bunga Adenium,  bukan pemilik yang mencari Kamboja, hanya karena Kamboja sedang populer, dan agar bisa dielu - elukan kepada pemilik yang lain, bahwasannya pemilik mempunyai bunga Kamboja di rumahnya. 

Jika bunga bertemu dengan pemilik yang memang mencarinya, pastinya bunga tersebut akan terawat, tumbuh tinggi, sehat dan bisa menjadi manfaat untuk sekitarnya, bukan mati sia - sia karena perawatan yang tidak seharusnya untuk Dia. 

Sebenarnya pesan dari cerita ini sungguhlah sederhana, jadilah dirimu sendiri dan menjadi cantik dalam versi kamu sendiri.

Karena saya merasa, ketika kita jujur dengan diri sendiri, semua rasanya lebih leluasa. Ketika melihat diri sendiri dengan cantik, maka melihat yang lain pasti dengan cara yang sama, semuanya memiliki keindahan masing - masing jadi kata membandingkan akan tiada guna. Dari sana rasa iri, tidak percaya diri, dan saudaranya akan perlahan larut hilang dan hanya akan ada penghargaan dan cinta disetiap pertemuannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Doesn't Really Matter

People these days, sure easily talk about others. Wether it is in social media or in the real life. But mostly on social media, people th...