Senin, 13 November 2017

Berakhir Pekan di Nusa Tenggara Timur

It's always been my dream to go to rural place and help the people around there. Saya selalu mencari cara bagaimana untuk mewujudkan salah satu mimpi yang saya miliki itu. Sampai pada akhirnya saya mengetahui 1000 Guru, since then I always look for the activities which I can join, akhirnya pada bulan Januari 2017, they posted an open activities for people, whoever they are. Akhirnya saya memberanikan diri untuk sekali lagi, pergi mengembara sendiri kepada ayah saya. Setelah saya jelaskan mengenai rinci aktivitas dan segala hal yang menyangkut kegiatan tersebut. "Boleh ngga yah ?" Tanya saya, "Kenapa nggak ?" Jawabnya membuat saya tersenyum lebar. 

Dari sana, saya mengontak Mas Jemi, founder dari 1000 Guru dan langsung tergabung dalam grup whatsapp yang telah dibuat. Akhirnya tidak lama setelah bergabung dan sejalannya waktu bertambah anggota, kami dipertemukan untuk membahas sedikit gambaran tentang keadaaan disana dan perlengkapan apa saja yang perlu kami bawa. Pada saat pertama bertemu, sudah banyak gelak tawa yang tercipta, terasa hangatnya. Pertemuan pertama itu membuat saya sangat terinspirasi, kakak - kakak yang ikut serta walaupun sibuk bekerja tetapi masih meluangkan waktunya untuk membantu sesama. 

Kami diberitahu bahwa kami akan mengajar anak tingkat SD, dari kelas satu sampai kelas enam, saya mendapat bagian untuk mengajar kelas enam, saya sangat excited yet saya merasa berat, melihat mereka akan menghadapi ujian nasional, tetapi setelah melihat lembaran kegiatan - materi perkelas, saya merasa lega, karena ditulisnya pada kertas itu, materi yang saya harus ajarkan adalah mengenai  pengenalan profesi dan motivasi untuk menghadapi ujian nasional. 

Saya mengajar kelas enam bersama dengan tiga kakak yang lain, yaitu Kak Dendi, Kak Putra, dan Kak Ratih. Kami bertemu tapi tanpa kehadiran Kak Ratih, karena beliau masih bekerja. Kami bertemu sehari sebelum keberangkatan yaitu pada kamis malam. Saya dan Kak Dendi berbincang sambil menunggu kedatangan Kak Putra, pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama kami, karena pada pertemuan sebelumnya mereka tidak bisa hadir. Tapi tidak ada kecanggungan diantara kami, selain membicarakan mengenai materi apa saja yang akan kami berikan nanti, tetapi juga berbincang mengenai kegemaran masing - masing dan apa yang sedang kami tekuni, berbagi cerita, ilmu dan energi positif. Saya terinspirasi. Dari perbincangan tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan hati, ikhlas dan kerja keras, akan sangat menentramkan hati dan menjadi vitamin bagi hati itu sendiri. 

Setelah berbincang sekian lama, saya mendapat catatan saya berisikan coretan barang apa saja yang harus saya beli keesokan harinya. Keesokaannya, sekitar jam 12 kurang saya beranjak dari rumah untuk ke Pasar Mayestik, toko yang saya harus kunjungi belum buka pada jam itu, karena salat Jumat, lalu saya memutari Pasar Mayestik, lalu membeli barang - barang di toko tersebut, bodohnya saya tidak melihat waktu. Saya baru keluar dari Pasar tersebut sekitar jam setengah dua siang, dan saya belum print beberapa hal lainnya untuk keperluan adik - adik disana. Di jalan saya melihat jam sudah menunjukan hampir jam 3 tepat, padahal pesawat saya akan boarding sekitar jam 4 kurang. Jalan Radio Dalam sangat macet kala itu, menghadapkan saya pada 3 kali lampu merah. Saya ingin menangis rasanya, menyadari betapa buruknya saya pada time managing. Terhitung tiga kali kakak saya menelfon saya, dimana, dimana dan dimana ? Dia terus bertanya, saya menjawab dengan jawaban yang sama, "Di Radio Dalam".  Saya mencoba menelfon ayah saya, untuk mengurangi kemungkinan yang besar, kalau saya akan tertinggal pesawat. Saya menelfon dengan nada seseorang yang sedang terjerembab, beliau menjawab dengan santai "Yang penting kamu sampai rumah dulu." Beliau memang selalu seperti itu, menenangkan.

Setelah saya sampai di rumah, saya langsung diserbu oleh kakak dan mamah saya, "Habis dari mana saja ?" Lalu keluarlah 1001 alasan saya yang tidak termaafkan. Lalu ayah saya mencoba mencari jalan keluar untuk me re-schedule jadwal penerbangan saya dan saya bersama kakak, mamah dan ayah tetap berangkat ke bandara untuk mengejar penerbangan terdekat. Tetapi ternyata tidak ada jam penerbangan yang bisa kami kejar dan pada akhirnya saya harus membeli tiket pesawat Batik Air, agar saya bisa mengejar ketinggalan saya, alhamdulillah saya masih bisa mengejar ketinggalan saya dengan Batik Air. Dari sana saya belajar bahwa waktu sangatlah mahal, barang sejam harus terganti dengan uang yang klumayan menguras uang jajan saya selama beberapa bulan.

Jam 2 pagi saya berangkat, ditemani kakak, kakak ipar, ayah dan mamah. Mobil melaju dengan santai hingga tiba di airport, pukul 2.30 pagi. Lagi - lagi saya hampir tertinggal, petugas bandara mengagetkan saya dengan mengatakan, "Aduh masih bisa ngga ya, tadi sudah di tutup soalnya." Saya dan mamah saya sedikit panik, karena sangat sayang sekali jika terlewat. Akhirnya petugas yang lain mencoba meng-check dan akhirnya alhamdulillah, angan - angan saya untuk bertemu adik - adik di NTT akan segera terwujud.

Pada saat berjalan menuju pesawat saya bertemu dengan Mas Jemi dan rombongan lainnya, lalu bertegur sapa, memasuki pesawat dan menduduki seat masing - masing, perjalanan pagi hari tersebut diwarnai dengan rasa kantuk yang membuat saya tertidur. Kami menempuh perjalanan Jakarta - Kupang dalam waktu 4 Jam.  Sesampainya di bandara El Tari Kupang, kami langsung berfoto bersama, lelah hilang seketika karena gelak tawa dan suasana kebahagiaan saat kami sampai di NTT dengan selamat. Alhamdulillah


Di bandara, kami dibagi - bagi  untuk pembagian kelompok mobil, saya tergabung dalam kelompok 2, berisikan Kak Kemal, Kak Putra, Kak Lia dan Kak Candra. Perpaduan individual yang entah mengapa saya suka.

Destinasi pertama kami adalah hotel La Hacienda di El Tari, disana kami menaruh tas dan mengambil beberapa barang yang penting untuk kami bawa dalam perjalanan dan berganti baju dengan kaos kebanggaan bertuliskan 1000 Guru, saya sangat amat senang berkesempatan memakai baju tersebut, karena itu merupakan salah satu angan saya sejak dulu. Setelah semua siap, sebelum beragkat kami membakar semangat dengan yel - yel, beberapa orang mendokumentasikan. Lalu setelah siap, semua bergegas memasuki mobil masing - masing.

Perjalanan yang akan kami tempuh menuju TRK Ponpnae sekitar 5 Jam, Kak Kemal dan Kak Lia mencoba memejamkan mata untuk beristirahat, sedangkan saya ingin terus membuka mata karena pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, sangat terik namun hijau.

Tak lama setelah kami berangkat, mobil kami menepi di suatu rumah berisikan banyak sasando, ternyata rumah tersebut merupakan rumah dari keturunan ke 4 penemu sasando, anak beliau merupakan salah satu finalis Indonesia Mencari Bakat, bernama Berto Pah. Keren ya. Mas Jemi bercerita bahwa Beliau sudah keliling ke beberapa negara untuk memperkenalkan sasando ke hadapan dunia. Salut.




Dari sana saya membeli gantungan kunci dengan bentuk sasando versi mini dan ti'ilangga ( topi khas Nusa Tenggara Timur ). Sesudah kami dijamu dengan petikan hangat dari sasando, kami menyempatkan diri berfoto bersama.

Setelah dari sana, kami lansung menuju tempat makan, siang itu perut saya mendapat asupan berupa nasi putih, rendang, sayur daun pepaya. Begitu juga dengan yang lain, kami semua makan sembari melontarkan canda. Restoran yang sepi itu berubah menjadi ramai seketika.

Setelah semua selesai, kami masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan ke daerah Kolbano, rasa kenyang, membuat kantuk semakin menjadi - jadi. Ditengah perjalanan, mobil kami terhenti kembali, jagung rebus dan kue cucur menjadi alasan perhentian kami. Jagung rebus kali ini spesial, karena berbeda dari yang biasanya saya lihat di kota lain, jagung disini lebih kenyal dan manis. Kami semua sudah merasa kekenyangan dengan hidangan sebelumnya, semua disimpan, hanya saya, Kak Putra dan Kak Candra yang menyantap jagung rebus itu.

Setelah mendapatkan itu semua, kami langsung melanjutkan perjalanan, "Apa bakal ada perhentian lagi ?" Salah satu dari kami bertanya pada pak supir yang saya tidak ingat namanya siapa, payah, "Sudah tidak ada." Lalu semua mencoba untuk beristirahat selama perjalanan.

Jalanan terlalu berliku, membuat saya dan Kak Candra gagal mendalami istirahat kami. Tetapi rasa kantuk kami lebih hebat, kami tertidur sembari mengikuti arah jalanan yang berliku. Perjalanan kami habiskan dengan berisitirahat, tak terasa ternyata kami sudah sampai di Kolbano, kami menepi untuk solat dan sebagian lain melihat - lihat suasana pantai, terpana.



Tak lama setelah menepi, kami langsung berangkat meneruskan perjalanan. Ternyata, walaupun kami sudah di Kolbano, perjalanan yang harus kami tempuh masih jauh. Tapi tidak apa, tidak ada 1 kali sebulan saya mengalami ini, jadi mari dinikmati saja.


Sepanjang perjalanan, saya banyak melihat rumah bulat disamping rumah warga, dan juga banyak pohon jagung disekitarnya, dalam perjalanan juga saya melihat banyak bapak - bapak, ibu - ibu maupun anak - anak membawa jeriken untuk menampung air, melihat hal itu membuat saya tersadar bahwa apa yang saya lihat di televisi memang benar adanya, pun itu juga membuat saya lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki, di Jakarta saya tidak perlu membawa jeriken dan menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, ditemani terik matahari yang menyengat demi satu jeriken air, bayangkan anak - anak membawa satu jeriken, dengan semua rintangannya, apakah itu cukup untuk mereka mandi ? Saya rasa tidak, apa mungkin mereka harus bolak - balik ? Itu menjadi pertanyaan sekaligus pernyadaran untuk diri saya.

Perjalanan begitu panjang, lika - liku saya nikmati karena pemandangan yang terhampar sepanjang mata memandang seakan mengalihkan rasa mual yang ada. Hamparan bukit hijau sesekali diselingi dengan pemandangan biru dari pantai Kolbano. Kombinasi yang indah untuk memanjakan kedua mata.



Saya juga melihat aktivitas warga sekitar dari jendela kaca mobil yang sangat pekat, terlihat kala itu banyak warga yang mengerumuni satu halaman rumah, banyak pot - pot bunga yang ditaruh di sisi jalan, menandakan ada seseorang yang meninggal dunia. Gotong - royong masih sangat kental terasa, karena banyak sekali warga yang berkerumun. Selain itu,  saya juga melihat beberapa anak - anak yang entah ingin berangkat atau pulang sekolah, mereka bergerombol dengan yang lain, sesekali iseng untuk menyapa, mereka menyambut dengan antusias dan senyum yang lebar. Terlihat orang - orang disini sangat gigih.

Perjalanan yang kami tempuh kurang - lebih 4 jam dari tempat perhentian sebelumnya, akhirnya sampai pada titik tujuan. Tampak beberapa orang tua lelaki sedang menunggu kedatangan kami, mereka membawa motor untuk mengangkut barang - barang bahan ajar dan buah tangan dari kami.

Selepas semua barang - barang diangkut, kami berjalan menuju sekolah, Mas Jemi sebelumnya pernah memberitahu kami bahwa perjalanan kaki tersebut akan sejauh 4 kilo, ternyata hanya 1 kilo, tapi ini bukan perjalanan kaki biasa, tanpa aspal, masih berbatu, bukan jalanan yang hanya lurus, tetapi jalanan yang terus menanjak, seperti mendaki, jangan lupa mengenai langit NTT yang seolah tidak memiliki lapisan yang membuat sinar matahari terasa sangat menyengat. Membuat tubuh kami basah dilumpuri keringat.


Hampir semua dari kami sudah mengeluh, kami sesekali berhenti untuk mangambil nafas. Sebagian dari kami yang tidak kuat akhirnya diantarkan dengan motor. Jalan yang kami lalui itu merupakan jalanan yang biasa anak - anak lewati, salut membayangkan semangat mereka. Sempat terbesit keinginan untuk naik motor, tetapi hati selalu menghalau "Ayo bisa, anak - anak aja bisa, ayo coba rasa apa yang mereka rasa." Perjalanan itu juga diwarnai dengan pengharapan palsu, "Ayo, sudah dekat" Tapi tak sampai - sampai, selepas dari itu semua akhirnya saya dan beberapa teman lain sampai, akhirnya kami duduk berkumpul menunggu anggota yang lainnya, sambil bersenda gurau, lagi - lagi itu menjadi penyegar dan penghapus rasa lelah.


Ternyata ada sebagian anggota yang belum sampai karena pingsan dan ada juga yang tidak kuat untuk sampai ke atas, tetapi terlalu sulit untuk naik motor, akhirnya kami yang sudah hampir sampai hanya menunggu dan yang masih dibawah mencari cara bagaimana agar semua bisa ke atas. Setelah menunggu lama, akhirnya satu persatu datang, dan yang terakhir, Kak Andra yang akhirnya berhasil naik keatas berkat bantuan dengan menggunakan motor dan dorongan dari bapak - bapak. Riuh, semua orang tertawa melihat kejadian itu, beberapa orang merekam kejadian tersebut.

Tak lama setelah itu, kami akhirnya jalan sedikit lagi untuk menemui warga yang sudah lama menunggu, ramai sekali, terasa sangat hangat, karena terlihat mereka begitu menanti kedatangan kami. Lalu ketua adat menyambut kami dengan sepatah - dua patah kata yang saya tidak mengerti apa artinya, karena di tuturkan dengan menggunakan bahasa daerah, sesudah itu kami langsung digiring ke sekolah diiringi dentuman gendang dan gong yang sangat indah dan juga tarian adat,  saya sangat amat gembira, karena ini merupakan mimpi saya. Dan saya sangat amat menyukai hal - hal yang berbau seni dan kultur. Sangat amat bersyukur.




Sampai pada halaman sekolah, kami dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan, lalu kembali kami disambut oleh ketua adat dan disuguhi tarian dinamis dari adik - adik yang cantik. Sesudah itu, satu persatu dari kami berbaris untuk disematkan kain tenun dan kami langsung dipersilahkan untuk santap siang di ruang kelas, sebelum masuk saya menyempatkan untuk berfoto dengan adik - adik yang sangat mungil.



Di ruang kelas sudah tersedia beberapa makanan, saya tidak tau apa nama makanan - makanan yang disajikan, yang saya ingat rupanya seperti soto, daging, sambal, nasi, dan jagung rebus yang sudah di potong kecil - kecil. Saya hanya mengambil sedikit, karena takut tidak habis. Setelah selesai, saya melihat lebih detil keadaan kelas, kelas yang kami tempati untuk makan ini adalah kelas yang sudah dibangun, jadi ubinnya sudah berbentuk lantai, sedangkan yang belum dibangun, hanya beralaskan tanah dan beratapkan daun. Namun, yang memprihatinkan adalah walaupun ubinnya sudah berbentuk lantai dengan keramik, sayangnya keramik tersebut sudah pecah - pecah dan ubinnya sudah naik - turun. Dan juga saya lihat pada papan tulis yang belum sepenuhnya dihapus, terdapat lagu nasional, saya merasakan sesuatu hal melihat hal itu, saya merasa menjadi satu, saya merasa mereka saudara saya, karena kita menyanyikan lagu yang sama. Walaupun daerah kami berbeda. Oiya, anjing disini badannya sangat kurus.





Setelah semua selesai makan, kami langsung keluar, Mas Jemi sudah berada di luar dan anak - anak sudah membentuk barisan sesuai dengan tingkatan kelas mereka masing - masing, Mas Jemi menyapa dan bersenandung lagu diwarnai dengan tepukan tangan. Semua bersemangat. "Jakarta dimana?" teriak Mas Jemi bertanya pada anak - anak, "Disana!" Anak - anak menjawab sembari menunjuk asal. Akhirnya setelah diperkenalkan antara relawan dengan anak - anak kami semua keluar dari barisan dan mencari tempat untuk memulai belajar, Kak Ratih, Kak Putra dan saya akhirnya memilih untuk dihalaman di dekat pohon, kami sebenarnya tidak siap, karena bahan ajar yang Kak Putra sudah siapkan tertinggal di mobil di bawah, yang supirnya entah kemana pada saat itu, dan seharusnya kami mengajarkan kelas 6 tetapi secara mendadak berganti karena ternyata ada siswa - siswi tingkat SMP, tidak sampai situ, kami sudah menyiapkan untuk masing - masing anak satu notebook dari kami, kami hanya membawa 9 karena murid kelas 6 berjumlah 9 orang, tetapi karena diubah, banyak murid yang kami hadapi hampir 3 kali lipatnya, yang berjumlah 28 orang, kami sempat bingung namun kami jalani dengan antusias.

Pertama, giliran saya dan Kak Ratih untuk perkenalan, kami memperkenalkan diri kami, mulai dari nama, hingga profesi karena tema pengajaran kami dekat dengan itu, lalu kami meminta anak - anak untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan cita - cita yang mereka inginkan. Dari perkenalan tersebut, bisa saya simpulkan bahwa anak - anak disini belum tau apa yang mereka inginkan, dan tidak tau banyak mengenai profesi - profesi apa saja yang ada di dunia, mereka hanya tau, menjadi ibu rumah tangga, bidan, polisi dan TNI. Disana saya tersadar akan sesuatu hal bahwa best privilege someone's can have adalah untuk menggapai mimpi mereka setinggi - tingginya, sedangkan anak - anak di sini masih belum tau mereka ingin menjadi apa dikala besar nanti dan mereka sangat jauh dari mendapatkan fasilitas untuk mewujudkan mimpi itu. Seakan saya disentil, "Lo udah punya segala fasilitas buat mewujudkan mimpi lo tapi seakan itu bukan apa - apa." Berangkat dari sana semangat saya semakin terbangun untuk mewujudkan mimpi saya dan membangun orang lain lewat mimpi yang saya punya.

Lalu, akhirnya pada giliran Kak Ratih untuk menceritakan mengenai profesinya sebagai pramugari, sesekali diselingi games, agar anak - anak lebih bersemangat. Kak Ratih memberi games mengenai bagaimana pesawat  landing dan take off, dan juga bagaimana seorang pramugari melayani penumpang pesawat. Anak - anak masih malu untuk menunjuk tangan, tetapi satu persatu akhirnya berani mencoba karena ngin memenangkan reward yang kami sudah siapkan.

Setelah Kak Ratih, tibalah giliran saya untuk menerangkan mengenai profesi - profesi yang ada di dunia, hanya dengan bermodalkan gambar pada kertas A4 yang saya print yang di dalamnya terdapat bermacam gambar profesi. Saya bertanya mengenai profesi apa saja yang saya tampilkan, banyak dari mereka yang masih tidak tau, apa itu masinis, pilot dan lainnya. Tetapi bahagianya setelah itu mereka jadi tau.

Lalu, tibalah giliran Kak Putra untuk tampil, karena barang yang saudah disiapkan hilang akhirnya Kak Putra mengubah rencananya untuk mengajarkan mengenai bibit tanaman. Akhirnya Kak Putra menggunakan alat - alat yang tersisa yaitu telur, bibit dan spidol untuk bahan ajar daur ulang, anak - anak kelihatan senang mendapatkan ilmu baru. Sepanjang pengajaran walaupun sangat lelah tetapi senyum tidak hilang dari wajah kami.

Hari sudah menjelang petang, kabut sudah mulai muncul, akhirnya Mas Jemi memberikan kami pohon harapan untuk dituliskan mimpi - mimpi yang adik - adik miliki, kami meberikan sobekan kertas pada setiap anak, mereka mulai menulis, setelah ditulis anak - anak maju satu persatu untuk menempelkan kertas pada pohon harapan, kala itu saya menggunakan double tip untuk melekatkan kertasnya, tersentak di dalam hati bahwa anak - anak disini belum tau double tip, karena mereka terlihat bingung untuk menggunakannya. Akhirnya kami bantu satu - persatu. Sesudah tertempel semua saya dan Kak Ratih melihat - lihat mimpi apa yang mereka tulis, mimpi mereka sederhana sekali.

Terperangah saya membaca satu - persatu harapan itu, sederhana ya ?

Akhirnya, kami berkumpul untuk bernyanyi bersama menandakan bahwa kami akan berpisah, kami berfoto - foto mengabadikan hal yang akan menjadi kenangan manis.

- Akan berlanjut kembali di satu waktu - 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Doesn't Really Matter

People these days, sure easily talk about others. Wether it is in social media or in the real life. But mostly on social media, people th...