Rabu, 31 Oktober 2018

Doesn't Really Matter


People these days, sure easily talk about others. Wether it is in social media or in the real life. But mostly on social media, people through their accounts can easily talk about others, moreover often it's bad side they are talking. 

But from what I experienced, I can conclude that people's opinion doesn't really matter. It used to be a bother for me, but not really anymore. I would do a self check and take something good from it, then the end of it. Because I realized, people can talk about anything they want, good or bad, it's our decision

Every person has their own bad and good side, no one is perfect, we all know that. There was a saying, I forget how it was exactly said, but it said, no matter how good you are, people going to see you as deep as they see themselves. They way they value others, reflects the way they value themselves.

I think people's opinion of us is a matter of their choice. If they want to see the bad of us, then they will always find one, and vice versa. Don't you think so ? When people talk good about us, how do I say to this...umm....sometimes I see it more like, it is their power / greatness / kindness / that they want and able to see the good thing in us. And when people perceive us in a bad way, then like what I said, there will always be one, two, three and more.  It never stops as it's more easy than looking the good in oneself. 

Also when people spread rumors, it is up to us wether we directly believe it or we have to do some search of the whole story. I believe wise people tend to have lot of consideration, they are not easily driven by others' opinion, they eager to know the whole story and various perspective.


There will always be good and bad side of a story, and also it's up to us wether we want to do some review and take something to learn from the story or just talk about it and get nothing. Smart people know which to choose.

So yep! I see many people these days don't really think deeply about what they are going to say, they just say anything. But I hope we are that kind of people whom always careful about what we are going to say. I hope that we are aware that everything we say can affect people's life, so we better say good thing ( talk wisely )  rather than hate speech, etc.

People's opinion is important for me when it being said privately, and they have a clear intention of what they say in constructive words. Other than that, I don't want to bother. 

Senin, 08 Oktober 2018

Sebuah Perumpamaan

by Utarakansaja

Banyak macam bunga di kebun,
ada Mawar, Melati, Rosella, Kamboja, Adenium,
dan lainnya.

Kala itu, kamboja sangat populer,
banyak orang datang untuk membelinya.

Adenium merasa iri ingin juga diminati,
Ia berpikir bahwa Ia tidak terlalu menarik,
lalu, Ia berlagak seolah - olah Ia Kamboja,

Pada satu hari, ada pembeli datang dari jauh,
"Saya ingin membeli ini!" Sembari mengambil Adenium,
yang dikiranya Kamboja.

Dia tidak begitu paham mengenai apa yang Dia cari,
'terlihat seperti Kamboja' pikirnya tanpa ambil pusing.

Lalu, dibawalah Adenium yang Dia kira Kamboja,
dan Adenium masih berlagak layaknya Kamboja.

Sampai pada tempat yang baru,
Ia diperlakukan sebagaimana Kamboja harus diperlakukan,
padahal Ia adalah Adenium.

Dari waktu ke waktu Ia mencoba bertahan,
namun perlahan Ia mati tidak sanggup,
"Seharusnya aku tidak berlagak seperti Kamboja."
Ia mati dalam penyesalan.

Di lain waktu, datang seorang pembeli dari jauh lainnya,
yang telah habiskan banyak waktu dan tenaga,
untuk mencari Adenium,
Dia habiskan waktu untuk menjalajahi Adenium,
Dia tahu betul bagaimana Adenium harus dirawat,
tapi sayang seribu sayang yang Dia cari sudah diambil,
dan mati sia - sia.

--------------------------------------------------------------------

Cerita tadi sebenarnya merupakan sebuah perumpamaan atau lebih tepatnya sebuah peng-ibarat-an. 

Layaknya kebun yang diisi dengan bunga - bunga yang beragam seperti Bunga Matahari, Bunga Rosella,  ataupun Adenium, yang memiliki kecantikannya dan maanfaatnya masing - masing. Dunia juga begitu adanya. Manusia ( Khususnya perempuan )  memiliki keragaman rupa, sikap, dan lain hal yang membuat setiap manusianya itu sendiri bervariasi. 

Tapi terkadang, karena adanya suatu standarisasi ( yang tidak terlihat di permukaan tapi bisa dirasakan ) untuk dikatakan 'cantik', 'indah', dan saudaranya. Bunga - bunga terkadang iri dan diam - diam berharap menjadi bunga yang lain. Karena sebagian bunga berpikir, "Oh mungkin aku harus jadi Kamboja ( dikarenakan Kamboja memiliki semua karakteristik untuk dikatakan Indah menurut banyak pembeli ), sehingga pembeli akan tertarik untuk membeliku." Untuk sekuntum Adenium berubah menjadi Kamboja, rasanya terlalu jauh, karena Dia harus berubah, artinya Dia akan menjadi sesuatu yang bukan dirinya, Dia akan terpaksa berbohong, bahkan pada dirinya sendiri. Akan lebih baik jika seharusnya Dia berharap, "Aku akan menjadi Adenium yang lebih segar, yang tumbuh lebih tinggi dan sehat." Sekali lagi, bukan menjadi bunga yang lain. 

Certita diatas ada kaitannya dengan hal berwangi cinta, lebih tepatnya, berkaitan dengan menemukan sesosok manusia, sebut saja Ia, Jodoh. Walaupun tidak setiap bunga mendambakan pembeli, tapi banyak dari bunga - bunga yang ingin menemukan pemiliknya yang baru. Sampai - sampai Dia berani untuk mengubah dirinya, demi Ia, Si Jodoh. Tapi disitulah bunga harus berhati - hati. 

Karena Adenium selama ini berpura - pura menjadi Kamboja, maka pemiliknya melihat Dia sebagai Kamboja. Padahal Dia bukanlah Kamboja. Lambat laun, Dia pasti akan merasa jenuh, Dia pasti akan merasa terperangkap.

Akan lebih Indah, jika dari awal Adenium tidak berpura - pura, terus menggali potensi untuk tumbuh lebih indah dalam keunikannya sendiri dan bersabar, Dia pasti akan menemukan pemilik yang memang mencari Dia, Adenium, yang benar - benar tau bahwa bunga yang Ia butuhkan adalah bunga Adenium,  bukan pemilik yang mencari Kamboja, hanya karena Kamboja sedang populer, dan agar bisa dielu - elukan kepada pemilik yang lain, bahwasannya pemilik mempunyai bunga Kamboja di rumahnya. 

Jika bunga bertemu dengan pemilik yang memang mencarinya, pastinya bunga tersebut akan terawat, tumbuh tinggi, sehat dan bisa menjadi manfaat untuk sekitarnya, bukan mati sia - sia karena perawatan yang tidak seharusnya untuk Dia. 

Sebenarnya pesan dari cerita ini sungguhlah sederhana, jadilah dirimu sendiri dan menjadi cantik dalam versi kamu sendiri.

Karena saya merasa, ketika kita jujur dengan diri sendiri, semua rasanya lebih leluasa. Ketika melihat diri sendiri dengan cantik, maka melihat yang lain pasti dengan cara yang sama, semuanya memiliki keindahan masing - masing jadi kata membandingkan akan tiada guna. Dari sana rasa iri, tidak percaya diri, dan saudaranya akan perlahan larut hilang dan hanya akan ada penghargaan dan cinta disetiap pertemuannya. 

Minggu, 06 Mei 2018

Afternoon Stroll



( Saturday | 17th March of 2018 ) 

It was really nice to had an afternoon stroll with them, discovering the old city, with much sense, I had the feeling of discovering something that I've never been gone to. The wind is full of grace to all of us. "It's really nice!" shouted one of us. Went to little street that being flanked by large building, in it there is a market and stores selling Chinese food. Photographing here and there, because the city offer us that abandoned yet beautiful vibes. 

Sabtu, 21 April 2018

It's Okay

I've been thinking lately about this life that I live in.

Thinking about, what my life must be like ? My mind keep asking that to myself, and I need an exact answer for me to immediately practice it into my life. But I just kept on thinking and the only answer that I got is : there is no such an exact answer to live the life. And for me, even there are holy book, but it only gives us picture of what we should avoid and what we better to do. But not an exact 'what my life must be like'. Do you get what I mean ? I am sorry, but I know I am such a bad descriptor. 

Because you know, everybody lives a different life, even they are in one family, but every member doesn't have the same routine, same friends, same job, same dream and etc. 

And I discovered by what I experienced, I have these two friends that in the same age,  the one is really successful with his/her business but she/he lives alone, but she/he still enjoying it. And the other friend, in that age, living happily with her/his partner building their dreams together. But who do you think is the right one ? Have you ever question about that ? Have you ever get the answer for that ? I did question this, but I don't have the exact answer, to be exact, I am not really sure about my answer.  Because I think there is no right or wrong when it comes to live the life that doesn't involve hurting  any kind of creature. Don't you think so ? 

There are peoples who already become so successful in their 20's, and also there are some peoples still finding their way about their vision, what they actually want to do in their life and stuffs. And that's okay. Because I don't think there is such a rule, to have a job, to be married and stuffs in certain age. If there is such a rule, I think this world will be like a running contest, we know exactly who wins and it will be really stressful because everybody is such in a rush and it will be boring, I guess. 

Having a target is really good thing, but to be in a rush I don't think that it's the right way to spend this precious life, right ? Many of my friends know exactly what they want to achieve, what they want to be, and know how they want to achieve it, good for them. And there are also many of my friends who still don't know what they want to achieve, what kind of success they want to reach and still have no idea about how to achieve it, they are still looking for one, good for them too. I think there is nothing wrong about it, as long as we are still trying and not just doing nothing, am I right ? 

It's okay to question yourself wether you are in this moment is heading up to where you want to be in life, it means that you're processing, not just standing still.

And I think success is relative,  everybody has their own criteria of success, it's really personal thing. And you know, some people's success might be something related to being famous, having many lands, or having a lot of money. And some other people's success might be like, having family and being a good wife or a good father to their kids, or to have a small house near rice fields. And for me, it's all fine. Dream is still a dream. Success is still a success. For it may be a simple thing, or complicated thing, big or small ( from others' perspective ) , it doesn't matter.

To know, where you are and where do you want to head up to ( even it's still blurry ) , is important. Then, every small steps will count. Keep on going while guessing if the steps that you take is the right steps for you, I think it's really okay. I guess we humans, don't have that hundred percent sure about what we're doing but we just do it anyway. I believe while we are doing it step by step, and pray as well, we will eventually arrive there. Inshaa Allah.

And I've seen many, not all people have their success in their early life, and it's still amazing. Because we know that they don't quit, they keep on going.

So actually, this is me writing for myself, reminding that it's okay if I am myself a bit worry and unsure what to do for the future, but I know one thing for sure is to keep on going, having confident to keep on going, enjoying the process that I have to go through, understanding that there will be ups and downs, and it's okay and to not compare my success to others' success, because it's truly personal.

And if you are feeling the same as I do, through this I want to encourage you to keep on going no matter what, to always have the faith. Inshaa Allah, just like what my mom said to me "Sedikit - dikit lama - lama jadi bukit." Fighting! 

Sabtu, 03 Februari 2018

Me and My Anxiety

I want to tell you a story about my anxiety that I had, back about two years ago, when I was in the 12th grade.

The story started when I had to accompany my sister, she went to Bandung for her university entrance examination, I wasn't planning to stay for one night, but I did. I was really fine before, totally but suddenly strange feelings came inside my mind when I was just sitting right next to my dad in the car,  something like "You gonna die in few days." came in to my mind. It scared me to death, and foolishly I did exaggeratedly react to that. I believed that. 

The feeling was so tiny and I accidentally made it big by searching through the internet about 'Signs a person is going to die'. I did search it and read the whole article. And I carelessly took it serious. I began to feel these signs, I had to check myself everyday, if I ever felt the signs, it was total crazy feeling mixed up. 

At first I was scared to tell my parents about those feelings, you know, to think about these crazy feeling was a total creep, to tell someone about that ? Ain't easy, I had to think, re-think, I kept questioning myself, "What if I told them, and after, I suddenly die ?" I didn't make it up, that was just what I thought at that time. But then my anxiety got more severe. 

There would be a time, I cried alone, my heart beat faster, and my mind kept on telling me that I would die, tonight, tomorrow, the day after tomorrow, and so on. It would get severe every friday, I was really afraid with friday. I was really really worried. I was not ready to die. I couldn't contain those feelings and thoughts alone, I thought it would be the best idea to tell my parents about that ( although I knew it was not easy thing to do at all ). I went for it anyway. 

They did listen to me, and they weren't denying, ( you know what I mean here right ? Because in some cases when people tell someone about how they're feeling, some people tend to deny it by saying, "How come you have that feeling ? Chin up!" You know, to be honest, we know we have to chin up, we thankful for the advice, but what we need the most actually a pair of ears to listen and understand, just that, don't you agree ? )  I am thankful for that. And they know they are not expert for that case so they suggest me to see a psychologist.

Day by day I had to face my anxiety, it kept on haunting me everyday, every hour, every minute of it. When I was about to pray, my mind told me "You gonna die when you do sujood." "You gonna die after this salah." Almost everyday I cried. When I was about to sleep, my mind told me, "This is your last sleep." And there was one day, I had to go to school with the feeling that haunted me, I didn't tell my friends about this, so no one knew, I carefully managed my expression, my mood, my fear, so no one would notice, the feeling that I had. And that day, I was totally scared, plus the subject that I had to face was the one I scared the most. I called my dad. I told him while I tried to hold back my tears "Yah, is there mom ? I want to talk to her, I am so scared. Mom, will I still alive after this ?" I didn't know exactly what was I thinking, "You will, don't worry, you're gonna be okay. Do you want to go home ?" "No, it's okay I will continue to study." The one that can take my worry away was my mom, her voice calms me down everyday, like it gives me strength  to live, it gave confidence to continue the day. And not long after that, I got call from my dad, he said he was downstair, right in my school, I was so surprised I didn't know that I made him worried that much, to think about that it touches my heart still.  "Do you want to go home ? I came here to pick you up." I did almost cry, saw him so worried about me, he understands me, "It's okay, I've talked with mom, I feel better." "I've scheduled you to see the psychologist." I hugged him, managed not to cry as hard as I could. I am super thankful. And I couldn't hold my tears when I did my prayer after the school ended. I cried quietly as I pray, but the feeling was so soothing. 

I did go to the psychologist, I told him everything, and he listened all the way. After I finished my story including the signs that I felt, he asked me things that made me think again, like flicking back my thoughts. And he said that the signs that I felt was a result of my anxiety, because I tend to believe that's true. It made me re-think and it calmed me down, I felt a bit happier. But it didn't last long, it would happen again the day after, I would worry about those think such, "You gonna die in 3 days." So I had to call him whenever I had this, heart beat faster, my hands was on sweat and cold, and it worried me so much that I cried, I was alone at home and he would tell me, to inhale-exhale, to tell him how I was feeling, he would calm me down by flicking back the way I saw things. I was alone at that time, no one around me, and from that I conclude I couldn't be left alone, because my mind would focus on what I fear, when I was alone. So yes, my family, especially my parents, won't left me alone. Also, there was a time I would stunned, I thought I already die, I would pinch hard my body, to awaken myself, that I could still feel the pinch, which by means I was still alive. I had to hurt myself to make sure that I was okay. That how bad it was. 

As time went by, my psychologist suggest me to get hypnotic, so that I could forget what I fear, but I denied it, I still believe that I could get through it without that kind of treatment. As I denied it, my mom told me to go to psychiatric, I did, I had to tell the doctor all the things, from the start, he listened, and he gave me medicine that I refuse to consume, because I was afraid that I would get addicted, and he told me that he has a friend that is an expert about this kind of thing, he said that I had to consume the medicine, then his friend would help me by bringing me closer to what I fear the most, such as, grave, ambulance, and such. By means, I had to conquer my fear, I have to be bigger than what I fear. That's the point that I got. He told me that method was once successful for his patient. But then again, I refused because I didn't want to consume the medicine, I still have that little confidence in me, that I can live peacefully without taking the medicine. Like there was still little faith in me that telling me "This shall pass, you have to be strong."

And there was a time, I think this was the worst of all things I ever experienced, at one night, came up to me a thought that it would be my last night in this life, I slept alone in my own room, but that night was hard to sleep, I couldn't even close my eyes a bit, because I was afraid when I close my eyes, it wouldn't open after that. And I decided to move to my parents' room, I had to knock because it was already locked, thankfully, my mom opened it, and I told them that I couldn't sleep, my heart beat faster, my hand on sweat, both my feet and hands were cold, it was hard to breath, my dad swiftly told me to sleep on their bed, and he stroking my head and hugged me, he whispered to me "It will be okay" and my mom brought me a water to calm me down, it was really late at night, and she messaged my feet, I cried, as it was really really hard to breath, I closed my eyes while my dad stroking my head, I told this to myself that day, "I surrender myself to Allah." and recited syahadat, thought it would be  the last night I would spend in this life. And I fell asleep. Alhamdulillah, I woke up in the morning. I am so thankful for both my parents. I love them so much. 

The feeling that you thought you wouldn't wake up  but Allah still gives you time to live, I am feeling  beyond grateful to wake up every morning. It's so precious to be alive. I appreciate life little more.

And lastly, my mom told me to go to internist, I know it doesn't relate, isn't it? But my mom told me that he is really wise and religious, and I took the advice, so I went to see the internist. My mom accompanied me, and she told the doctor about what I had been through, and the doctor listen, and he told me stories about his patients, "Many of my patients have a lot of things, money, wealth, and stuffs. But they seem so worried even they have it all, but when we die what we gonna bring ?  Money ? No. People tend to forget, that all we have to do is to be grateful, maybe you just forget about being grateful and surrender to God, try to be more grateful about the little things in life." And this doctor agree with me to not take the medicine, because he also believe in me that I would go through it. And suddenly at that time, I thought, this is what I have been looking for. I had confidence, and I could laugh freely at that time.  And the doctor told me to have a little move around my neck so I would get more relaxed, because you know, when I had to think and worried all those things, I think that my nerves wasn't relaxed. And I also had an itching on my skin, the doctor said that it was because of my anxiety, I forgot why it could be like that. 

And from that moment I try to be more grateful about everything, waking up in the morning, the fact that I still can breath, to see my family faces, I cherish every little thing in my life. When that fear came again, I try to have a faith and surrender myself to Allah. My life changed. 

And there was a time, I did my prayer, I forgot what time, but I think it was dhuha. I cried as I pray, and after that prayer, my self within me, asked me question, "What is your purpose in this life ?" And myself answered itself, "To be useful to the people." Bum! I felt like being reborn. I was kind of realized, that this thing happened to me for a reason. And I think, this is the reason. I felt like Allah wanted to remind me, for what reason I was here, in this world. To be useful the people. And I cried loudly thanking Allah for everything, I feel super blessed, beyond blessed. And from that moment I try to find a way to be useful. Started for the family, friends and the people. And that year, I started my first volunteering activity. And began to live my life fully, so then there'll be no regret, Inshaa Allah. Everyday I wake up with grateful heart, because I know when Allah gives me a day, Allah gives me a chance.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

So basically the reason why I write about this ( this is not an easy thing but there is something that push me to write it down to share it with you guys, and back then I was really scare to tell about this because I think it's not something that people should know but then again for some reason yep, I write it down ),  is because some people tend to underestimate mental illness, such as : clinical depression, anxiety disorder, bipolar disorder, etc. Like there was one day Korean singer committed suicide, some people reacted like "How can someone decide to die just because of a depression ?" I was like wow, how could you say that ?

Some people assuming that depression or etc, is because the way we think isn't right. But from my own experience, I can say, no it's not like that, it's way more than that, because if it says like that, we also don't want to think like that but deep inside our mind keep on talking like that.

It's so hard for someone with anxiety ( or any other mental illness ) to be open up about their situation, so when they do I hope we all, try to just listen and understand, even we can't understand just give them our open ears and arms, not denying like "You're exaggerating it." Maybe that's why some of us keep it to themselves. Because we're scared that some of the people we tell about it going to judge us even scared of us.

And the other reason why I write this, is because I want to acknowledge some of the people who have been through the same thing, that they are not alone and I believe in us we are greater than what we fear, Inshaa Allah. We will overcome it! Trust yourself and embrace it. Inshaa Allah. ( And I suggest you to be open up about this to your parents and the one you trust, and go to consultation, and if you are on that stage already, trust yourself, keep on praying and keep on being strong, the better days will come, I believe. You are the hero for yourself ). And my psychologist once said to me that there will be time I will be like this again, I am aware of it ( because there are the days my heart pounding hard and I can't do anything, but I am totally fine )  I am accepting myself for it by embracing it. Because,

I just discovered a good thing,


Please smile, it looks good on you :)

Sabtu, 16 Desember 2017

Peluk Diri Sendiri!

Um, um, um

Seperti biasa, kebingungan mau memulai.
I've been thinking and feeling about these things recently,

Mengenai 'bercinta' dalam arti kata menaruh rasa cinta pada diri sendiri.


Rasa dan pikiran menguap ketika diri terhantam, biasa orang bilang namanya, cinta. Jatuh cinta kepada orang lain membuat seorang Putri lupa bahwasannya sebelum Ia mencitai orang lain, alangkah baiknya Ia ( seharusnya ) mengenali dirinya terlebih dulu. Been blinded by the desire, (  I didn't say it was love, because I truly believe that love is total pure and used for represents good things ) to have someone to accompany and being accompanied. I was lost into thinking that it was love, but it was all mixed up. I gave up. Whenever I had a thought of him, I'd feel insecure. Gue kira, cinta bukanlah hal yang membuat kita merasa seperti itu, bukan ? 

Dan datang waktu ketika diri disadarkan bahwa diri ini tidak memeluk dirinya sendiri. As time goes by, I try to get to know me, to understand me, to love every bit of me. Sebagai contoh : 

Dulu, kala ada sesuatu yang salah, I'd always curse at myself, I'd blame myself. But then I try to change the way I behave to myself, I'd say to myself "I know the things didn't go as what we ( Gue selalu bilang 'kita' karena entah mengapa, gue merasa diri gue tidak hanya satu ) wish, but you've did well, you've did your best, it's okay." The feeling that you get when you talk to yourself nicely, is totally precious. 

Juga, ketika diri diliputi rasa takut akan hal - hal baru, hal - hal yang dirasa mengintimidasi, I'd say to myself "It's okay, we gonna get through it, you gotta do your best, so there'll be no regret, cheers to us! We gonna do this, you can do it!" Karena gue percaya ada beberapa hal yang ngga bisa dipengaruhi oleh orang lain, kecuali diri kita sendiri, seperti ini contohnya, menghadapi ketakutan yang hanya dimengerti oleh diri sendiri. 

There comes time when I get so lazy, to be honest I don't feel right when I get so lazy, I'd understand myself by saying these to myself, "I know you don't like it, but it's okay, get some rest from being so busy." I'd feel muuuuch better after that. 

Mengenali dan mengerti diri sendiri menurut gue adalah suatu hal yang membutuhkan waktu, selamanya, karena seperti halnya dunia yang selalu orang bilang, akan ada naik - turun, atas - bawah, akan ada waktu dimana gue akan sepenuhnya bilang, "You're the best!" As a reward for myself, tapi akan ada waktu dimana gue merasa "You're worst." Karena rasa tidak selalu sama, tapi hal itu gue rasa wajar, sangat wajar, karena seperti itulah hidup, bukankah begitu ? Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi diri kita sendiri.

Ketika gue merasa "You're worst." Disitulah rasanya sangat penting untuk lebih mengenali dan mengerti diri sendiri, untuk memeluk diri sendiri, engage dengan diri sendiri. Ketika hal seperti itu menerpa, gue akan bertanya pada diri sendiri "Kamu sedih kan? ( rasanya sedikit aneh, tapi entahlah rasanya lebih menenangkan ) ngga apa - apa, lihat apa yang bisa dipelajari, belajar dari ini."

Ada kala dimana diri terlalu keras pada dirinya yang lain, that time I can recognize myself, who  blames itself, and I'd say "You are being hard on yourself right now, it's okay, okay ?"

Beda rasanya ketika berbicara dengan diri sendiri saat ada sesuatu yang menimpa dengan tidak berbicara, rasanya lebih menguatkan, karena dulu ketika diri belum terlalu berteman dengan bagiannya yang lain, bingung untuk mencari arah yang keduanya sama - sama sepakat untuk dijalani. Ketika berdiskusi dengan diri sendiri, rasanya lebih jelas, everything ( for me ) gets lotta better. Seperti ada dukungan lebih, ada energi yang saling mengkokohkan satu sama lainnya.

It was not easy at the very beginning but, it was worth the try. Pada akhirnya, we ourselves will adjust for every kind of situations. Trust me. Dari apa yang gue rasakan, bersahabat sama diri sendiri itu adalah hal yang paling menenangkan. Seperti apa yang selalu Mamah gue bilang kalau beliau lihat anaknya kebingungan, "Kamu mau pergi kemanapun ngga akan ngaruh, kalau ngga di mulai dari diri kamu sendiri." And voila! Apa yang Mamah gue bilang, itu benar adanya! Karena gue punya keyakinan kalau sebenarnya juga the universe also within us! :)






Senin, 13 November 2017

Berakhir Pekan di Nusa Tenggara Timur

It's always been my dream to go to rural place and help the people around there. Saya selalu mencari cara bagaimana untuk mewujudkan salah satu mimpi yang saya miliki itu. Sampai pada akhirnya saya mengetahui 1000 Guru, since then I always look for the activities which I can join, akhirnya pada bulan Januari 2017, they posted an open activities for people, whoever they are. Akhirnya saya memberanikan diri untuk sekali lagi, pergi mengembara sendiri kepada ayah saya. Setelah saya jelaskan mengenai rinci aktivitas dan segala hal yang menyangkut kegiatan tersebut. "Boleh ngga yah ?" Tanya saya, "Kenapa nggak ?" Jawabnya membuat saya tersenyum lebar. 

Dari sana, saya mengontak Mas Jemi, founder dari 1000 Guru dan langsung tergabung dalam grup whatsapp yang telah dibuat. Akhirnya tidak lama setelah bergabung dan sejalannya waktu bertambah anggota, kami dipertemukan untuk membahas sedikit gambaran tentang keadaaan disana dan perlengkapan apa saja yang perlu kami bawa. Pada saat pertama bertemu, sudah banyak gelak tawa yang tercipta, terasa hangatnya. Pertemuan pertama itu membuat saya sangat terinspirasi, kakak - kakak yang ikut serta walaupun sibuk bekerja tetapi masih meluangkan waktunya untuk membantu sesama. 

Kami diberitahu bahwa kami akan mengajar anak tingkat SD, dari kelas satu sampai kelas enam, saya mendapat bagian untuk mengajar kelas enam, saya sangat excited yet saya merasa berat, melihat mereka akan menghadapi ujian nasional, tetapi setelah melihat lembaran kegiatan - materi perkelas, saya merasa lega, karena ditulisnya pada kertas itu, materi yang saya harus ajarkan adalah mengenai  pengenalan profesi dan motivasi untuk menghadapi ujian nasional. 

Saya mengajar kelas enam bersama dengan tiga kakak yang lain, yaitu Kak Dendi, Kak Putra, dan Kak Ratih. Kami bertemu tapi tanpa kehadiran Kak Ratih, karena beliau masih bekerja. Kami bertemu sehari sebelum keberangkatan yaitu pada kamis malam. Saya dan Kak Dendi berbincang sambil menunggu kedatangan Kak Putra, pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama kami, karena pada pertemuan sebelumnya mereka tidak bisa hadir. Tapi tidak ada kecanggungan diantara kami, selain membicarakan mengenai materi apa saja yang akan kami berikan nanti, tetapi juga berbincang mengenai kegemaran masing - masing dan apa yang sedang kami tekuni, berbagi cerita, ilmu dan energi positif. Saya terinspirasi. Dari perbincangan tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan hati, ikhlas dan kerja keras, akan sangat menentramkan hati dan menjadi vitamin bagi hati itu sendiri. 

Setelah berbincang sekian lama, saya mendapat catatan saya berisikan coretan barang apa saja yang harus saya beli keesokan harinya. Keesokaannya, sekitar jam 12 kurang saya beranjak dari rumah untuk ke Pasar Mayestik, toko yang saya harus kunjungi belum buka pada jam itu, karena salat Jumat, lalu saya memutari Pasar Mayestik, lalu membeli barang - barang di toko tersebut, bodohnya saya tidak melihat waktu. Saya baru keluar dari Pasar tersebut sekitar jam setengah dua siang, dan saya belum print beberapa hal lainnya untuk keperluan adik - adik disana. Di jalan saya melihat jam sudah menunjukan hampir jam 3 tepat, padahal pesawat saya akan boarding sekitar jam 4 kurang. Jalan Radio Dalam sangat macet kala itu, menghadapkan saya pada 3 kali lampu merah. Saya ingin menangis rasanya, menyadari betapa buruknya saya pada time managing. Terhitung tiga kali kakak saya menelfon saya, dimana, dimana dan dimana ? Dia terus bertanya, saya menjawab dengan jawaban yang sama, "Di Radio Dalam".  Saya mencoba menelfon ayah saya, untuk mengurangi kemungkinan yang besar, kalau saya akan tertinggal pesawat. Saya menelfon dengan nada seseorang yang sedang terjerembab, beliau menjawab dengan santai "Yang penting kamu sampai rumah dulu." Beliau memang selalu seperti itu, menenangkan.

Setelah saya sampai di rumah, saya langsung diserbu oleh kakak dan mamah saya, "Habis dari mana saja ?" Lalu keluarlah 1001 alasan saya yang tidak termaafkan. Lalu ayah saya mencoba mencari jalan keluar untuk me re-schedule jadwal penerbangan saya dan saya bersama kakak, mamah dan ayah tetap berangkat ke bandara untuk mengejar penerbangan terdekat. Tetapi ternyata tidak ada jam penerbangan yang bisa kami kejar dan pada akhirnya saya harus membeli tiket pesawat Batik Air, agar saya bisa mengejar ketinggalan saya, alhamdulillah saya masih bisa mengejar ketinggalan saya dengan Batik Air. Dari sana saya belajar bahwa waktu sangatlah mahal, barang sejam harus terganti dengan uang yang klumayan menguras uang jajan saya selama beberapa bulan.

Jam 2 pagi saya berangkat, ditemani kakak, kakak ipar, ayah dan mamah. Mobil melaju dengan santai hingga tiba di airport, pukul 2.30 pagi. Lagi - lagi saya hampir tertinggal, petugas bandara mengagetkan saya dengan mengatakan, "Aduh masih bisa ngga ya, tadi sudah di tutup soalnya." Saya dan mamah saya sedikit panik, karena sangat sayang sekali jika terlewat. Akhirnya petugas yang lain mencoba meng-check dan akhirnya alhamdulillah, angan - angan saya untuk bertemu adik - adik di NTT akan segera terwujud.

Pada saat berjalan menuju pesawat saya bertemu dengan Mas Jemi dan rombongan lainnya, lalu bertegur sapa, memasuki pesawat dan menduduki seat masing - masing, perjalanan pagi hari tersebut diwarnai dengan rasa kantuk yang membuat saya tertidur. Kami menempuh perjalanan Jakarta - Kupang dalam waktu 4 Jam.  Sesampainya di bandara El Tari Kupang, kami langsung berfoto bersama, lelah hilang seketika karena gelak tawa dan suasana kebahagiaan saat kami sampai di NTT dengan selamat. Alhamdulillah


Di bandara, kami dibagi - bagi  untuk pembagian kelompok mobil, saya tergabung dalam kelompok 2, berisikan Kak Kemal, Kak Putra, Kak Lia dan Kak Candra. Perpaduan individual yang entah mengapa saya suka.

Destinasi pertama kami adalah hotel La Hacienda di El Tari, disana kami menaruh tas dan mengambil beberapa barang yang penting untuk kami bawa dalam perjalanan dan berganti baju dengan kaos kebanggaan bertuliskan 1000 Guru, saya sangat amat senang berkesempatan memakai baju tersebut, karena itu merupakan salah satu angan saya sejak dulu. Setelah semua siap, sebelum beragkat kami membakar semangat dengan yel - yel, beberapa orang mendokumentasikan. Lalu setelah siap, semua bergegas memasuki mobil masing - masing.

Perjalanan yang akan kami tempuh menuju TRK Ponpnae sekitar 5 Jam, Kak Kemal dan Kak Lia mencoba memejamkan mata untuk beristirahat, sedangkan saya ingin terus membuka mata karena pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, sangat terik namun hijau.

Tak lama setelah kami berangkat, mobil kami menepi di suatu rumah berisikan banyak sasando, ternyata rumah tersebut merupakan rumah dari keturunan ke 4 penemu sasando, anak beliau merupakan salah satu finalis Indonesia Mencari Bakat, bernama Berto Pah. Keren ya. Mas Jemi bercerita bahwa Beliau sudah keliling ke beberapa negara untuk memperkenalkan sasando ke hadapan dunia. Salut.




Dari sana saya membeli gantungan kunci dengan bentuk sasando versi mini dan ti'ilangga ( topi khas Nusa Tenggara Timur ). Sesudah kami dijamu dengan petikan hangat dari sasando, kami menyempatkan diri berfoto bersama.

Setelah dari sana, kami lansung menuju tempat makan, siang itu perut saya mendapat asupan berupa nasi putih, rendang, sayur daun pepaya. Begitu juga dengan yang lain, kami semua makan sembari melontarkan canda. Restoran yang sepi itu berubah menjadi ramai seketika.

Setelah semua selesai, kami masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan ke daerah Kolbano, rasa kenyang, membuat kantuk semakin menjadi - jadi. Ditengah perjalanan, mobil kami terhenti kembali, jagung rebus dan kue cucur menjadi alasan perhentian kami. Jagung rebus kali ini spesial, karena berbeda dari yang biasanya saya lihat di kota lain, jagung disini lebih kenyal dan manis. Kami semua sudah merasa kekenyangan dengan hidangan sebelumnya, semua disimpan, hanya saya, Kak Putra dan Kak Candra yang menyantap jagung rebus itu.

Setelah mendapatkan itu semua, kami langsung melanjutkan perjalanan, "Apa bakal ada perhentian lagi ?" Salah satu dari kami bertanya pada pak supir yang saya tidak ingat namanya siapa, payah, "Sudah tidak ada." Lalu semua mencoba untuk beristirahat selama perjalanan.

Jalanan terlalu berliku, membuat saya dan Kak Candra gagal mendalami istirahat kami. Tetapi rasa kantuk kami lebih hebat, kami tertidur sembari mengikuti arah jalanan yang berliku. Perjalanan kami habiskan dengan berisitirahat, tak terasa ternyata kami sudah sampai di Kolbano, kami menepi untuk solat dan sebagian lain melihat - lihat suasana pantai, terpana.



Tak lama setelah menepi, kami langsung berangkat meneruskan perjalanan. Ternyata, walaupun kami sudah di Kolbano, perjalanan yang harus kami tempuh masih jauh. Tapi tidak apa, tidak ada 1 kali sebulan saya mengalami ini, jadi mari dinikmati saja.


Sepanjang perjalanan, saya banyak melihat rumah bulat disamping rumah warga, dan juga banyak pohon jagung disekitarnya, dalam perjalanan juga saya melihat banyak bapak - bapak, ibu - ibu maupun anak - anak membawa jeriken untuk menampung air, melihat hal itu membuat saya tersadar bahwa apa yang saya lihat di televisi memang benar adanya, pun itu juga membuat saya lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki, di Jakarta saya tidak perlu membawa jeriken dan menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, ditemani terik matahari yang menyengat demi satu jeriken air, bayangkan anak - anak membawa satu jeriken, dengan semua rintangannya, apakah itu cukup untuk mereka mandi ? Saya rasa tidak, apa mungkin mereka harus bolak - balik ? Itu menjadi pertanyaan sekaligus pernyadaran untuk diri saya.

Perjalanan begitu panjang, lika - liku saya nikmati karena pemandangan yang terhampar sepanjang mata memandang seakan mengalihkan rasa mual yang ada. Hamparan bukit hijau sesekali diselingi dengan pemandangan biru dari pantai Kolbano. Kombinasi yang indah untuk memanjakan kedua mata.



Saya juga melihat aktivitas warga sekitar dari jendela kaca mobil yang sangat pekat, terlihat kala itu banyak warga yang mengerumuni satu halaman rumah, banyak pot - pot bunga yang ditaruh di sisi jalan, menandakan ada seseorang yang meninggal dunia. Gotong - royong masih sangat kental terasa, karena banyak sekali warga yang berkerumun. Selain itu,  saya juga melihat beberapa anak - anak yang entah ingin berangkat atau pulang sekolah, mereka bergerombol dengan yang lain, sesekali iseng untuk menyapa, mereka menyambut dengan antusias dan senyum yang lebar. Terlihat orang - orang disini sangat gigih.

Perjalanan yang kami tempuh kurang - lebih 4 jam dari tempat perhentian sebelumnya, akhirnya sampai pada titik tujuan. Tampak beberapa orang tua lelaki sedang menunggu kedatangan kami, mereka membawa motor untuk mengangkut barang - barang bahan ajar dan buah tangan dari kami.

Selepas semua barang - barang diangkut, kami berjalan menuju sekolah, Mas Jemi sebelumnya pernah memberitahu kami bahwa perjalanan kaki tersebut akan sejauh 4 kilo, ternyata hanya 1 kilo, tapi ini bukan perjalanan kaki biasa, tanpa aspal, masih berbatu, bukan jalanan yang hanya lurus, tetapi jalanan yang terus menanjak, seperti mendaki, jangan lupa mengenai langit NTT yang seolah tidak memiliki lapisan yang membuat sinar matahari terasa sangat menyengat. Membuat tubuh kami basah dilumpuri keringat.


Hampir semua dari kami sudah mengeluh, kami sesekali berhenti untuk mangambil nafas. Sebagian dari kami yang tidak kuat akhirnya diantarkan dengan motor. Jalan yang kami lalui itu merupakan jalanan yang biasa anak - anak lewati, salut membayangkan semangat mereka. Sempat terbesit keinginan untuk naik motor, tetapi hati selalu menghalau "Ayo bisa, anak - anak aja bisa, ayo coba rasa apa yang mereka rasa." Perjalanan itu juga diwarnai dengan pengharapan palsu, "Ayo, sudah dekat" Tapi tak sampai - sampai, selepas dari itu semua akhirnya saya dan beberapa teman lain sampai, akhirnya kami duduk berkumpul menunggu anggota yang lainnya, sambil bersenda gurau, lagi - lagi itu menjadi penyegar dan penghapus rasa lelah.


Ternyata ada sebagian anggota yang belum sampai karena pingsan dan ada juga yang tidak kuat untuk sampai ke atas, tetapi terlalu sulit untuk naik motor, akhirnya kami yang sudah hampir sampai hanya menunggu dan yang masih dibawah mencari cara bagaimana agar semua bisa ke atas. Setelah menunggu lama, akhirnya satu persatu datang, dan yang terakhir, Kak Andra yang akhirnya berhasil naik keatas berkat bantuan dengan menggunakan motor dan dorongan dari bapak - bapak. Riuh, semua orang tertawa melihat kejadian itu, beberapa orang merekam kejadian tersebut.

Tak lama setelah itu, kami akhirnya jalan sedikit lagi untuk menemui warga yang sudah lama menunggu, ramai sekali, terasa sangat hangat, karena terlihat mereka begitu menanti kedatangan kami. Lalu ketua adat menyambut kami dengan sepatah - dua patah kata yang saya tidak mengerti apa artinya, karena di tuturkan dengan menggunakan bahasa daerah, sesudah itu kami langsung digiring ke sekolah diiringi dentuman gendang dan gong yang sangat indah dan juga tarian adat,  saya sangat amat gembira, karena ini merupakan mimpi saya. Dan saya sangat amat menyukai hal - hal yang berbau seni dan kultur. Sangat amat bersyukur.




Sampai pada halaman sekolah, kami dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan, lalu kembali kami disambut oleh ketua adat dan disuguhi tarian dinamis dari adik - adik yang cantik. Sesudah itu, satu persatu dari kami berbaris untuk disematkan kain tenun dan kami langsung dipersilahkan untuk santap siang di ruang kelas, sebelum masuk saya menyempatkan untuk berfoto dengan adik - adik yang sangat mungil.



Di ruang kelas sudah tersedia beberapa makanan, saya tidak tau apa nama makanan - makanan yang disajikan, yang saya ingat rupanya seperti soto, daging, sambal, nasi, dan jagung rebus yang sudah di potong kecil - kecil. Saya hanya mengambil sedikit, karena takut tidak habis. Setelah selesai, saya melihat lebih detil keadaan kelas, kelas yang kami tempati untuk makan ini adalah kelas yang sudah dibangun, jadi ubinnya sudah berbentuk lantai, sedangkan yang belum dibangun, hanya beralaskan tanah dan beratapkan daun. Namun, yang memprihatinkan adalah walaupun ubinnya sudah berbentuk lantai dengan keramik, sayangnya keramik tersebut sudah pecah - pecah dan ubinnya sudah naik - turun. Dan juga saya lihat pada papan tulis yang belum sepenuhnya dihapus, terdapat lagu nasional, saya merasakan sesuatu hal melihat hal itu, saya merasa menjadi satu, saya merasa mereka saudara saya, karena kita menyanyikan lagu yang sama. Walaupun daerah kami berbeda. Oiya, anjing disini badannya sangat kurus.





Setelah semua selesai makan, kami langsung keluar, Mas Jemi sudah berada di luar dan anak - anak sudah membentuk barisan sesuai dengan tingkatan kelas mereka masing - masing, Mas Jemi menyapa dan bersenandung lagu diwarnai dengan tepukan tangan. Semua bersemangat. "Jakarta dimana?" teriak Mas Jemi bertanya pada anak - anak, "Disana!" Anak - anak menjawab sembari menunjuk asal. Akhirnya setelah diperkenalkan antara relawan dengan anak - anak kami semua keluar dari barisan dan mencari tempat untuk memulai belajar, Kak Ratih, Kak Putra dan saya akhirnya memilih untuk dihalaman di dekat pohon, kami sebenarnya tidak siap, karena bahan ajar yang Kak Putra sudah siapkan tertinggal di mobil di bawah, yang supirnya entah kemana pada saat itu, dan seharusnya kami mengajarkan kelas 6 tetapi secara mendadak berganti karena ternyata ada siswa - siswi tingkat SMP, tidak sampai situ, kami sudah menyiapkan untuk masing - masing anak satu notebook dari kami, kami hanya membawa 9 karena murid kelas 6 berjumlah 9 orang, tetapi karena diubah, banyak murid yang kami hadapi hampir 3 kali lipatnya, yang berjumlah 28 orang, kami sempat bingung namun kami jalani dengan antusias.

Pertama, giliran saya dan Kak Ratih untuk perkenalan, kami memperkenalkan diri kami, mulai dari nama, hingga profesi karena tema pengajaran kami dekat dengan itu, lalu kami meminta anak - anak untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan cita - cita yang mereka inginkan. Dari perkenalan tersebut, bisa saya simpulkan bahwa anak - anak disini belum tau apa yang mereka inginkan, dan tidak tau banyak mengenai profesi - profesi apa saja yang ada di dunia, mereka hanya tau, menjadi ibu rumah tangga, bidan, polisi dan TNI. Disana saya tersadar akan sesuatu hal bahwa best privilege someone's can have adalah untuk menggapai mimpi mereka setinggi - tingginya, sedangkan anak - anak di sini masih belum tau mereka ingin menjadi apa dikala besar nanti dan mereka sangat jauh dari mendapatkan fasilitas untuk mewujudkan mimpi itu. Seakan saya disentil, "Lo udah punya segala fasilitas buat mewujudkan mimpi lo tapi seakan itu bukan apa - apa." Berangkat dari sana semangat saya semakin terbangun untuk mewujudkan mimpi saya dan membangun orang lain lewat mimpi yang saya punya.

Lalu, akhirnya pada giliran Kak Ratih untuk menceritakan mengenai profesinya sebagai pramugari, sesekali diselingi games, agar anak - anak lebih bersemangat. Kak Ratih memberi games mengenai bagaimana pesawat  landing dan take off, dan juga bagaimana seorang pramugari melayani penumpang pesawat. Anak - anak masih malu untuk menunjuk tangan, tetapi satu persatu akhirnya berani mencoba karena ngin memenangkan reward yang kami sudah siapkan.

Setelah Kak Ratih, tibalah giliran saya untuk menerangkan mengenai profesi - profesi yang ada di dunia, hanya dengan bermodalkan gambar pada kertas A4 yang saya print yang di dalamnya terdapat bermacam gambar profesi. Saya bertanya mengenai profesi apa saja yang saya tampilkan, banyak dari mereka yang masih tidak tau, apa itu masinis, pilot dan lainnya. Tetapi bahagianya setelah itu mereka jadi tau.

Lalu, tibalah giliran Kak Putra untuk tampil, karena barang yang saudah disiapkan hilang akhirnya Kak Putra mengubah rencananya untuk mengajarkan mengenai bibit tanaman. Akhirnya Kak Putra menggunakan alat - alat yang tersisa yaitu telur, bibit dan spidol untuk bahan ajar daur ulang, anak - anak kelihatan senang mendapatkan ilmu baru. Sepanjang pengajaran walaupun sangat lelah tetapi senyum tidak hilang dari wajah kami.

Hari sudah menjelang petang, kabut sudah mulai muncul, akhirnya Mas Jemi memberikan kami pohon harapan untuk dituliskan mimpi - mimpi yang adik - adik miliki, kami meberikan sobekan kertas pada setiap anak, mereka mulai menulis, setelah ditulis anak - anak maju satu persatu untuk menempelkan kertas pada pohon harapan, kala itu saya menggunakan double tip untuk melekatkan kertasnya, tersentak di dalam hati bahwa anak - anak disini belum tau double tip, karena mereka terlihat bingung untuk menggunakannya. Akhirnya kami bantu satu - persatu. Sesudah tertempel semua saya dan Kak Ratih melihat - lihat mimpi apa yang mereka tulis, mimpi mereka sederhana sekali.

Terperangah saya membaca satu - persatu harapan itu, sederhana ya ?

Akhirnya, kami berkumpul untuk bernyanyi bersama menandakan bahwa kami akan berpisah, kami berfoto - foto mengabadikan hal yang akan menjadi kenangan manis.

- Akan berlanjut kembali di satu waktu - 

Sabtu, 01 April 2017

First Time Joining CCE!

On Sunday, 26th of March. Hari itu adalah hari pertama saya untuk berkegiatan di Lapak setelah saya resmi tergabung dalam keluarga CCE Community seminggu sebelumnya. Pagi hari saya menyiapkan beberapa materi untuk PAUD/TK karena saya mendapatkan posisi untuk mengajar pada tingkatan tersebut, yaitu materi alfabet dan huruf, saya mem-print out beberapa worksheet yang kira - kira menarik untuk dikerjakan. Dan menyiapkan buku yang saya pinjam dari adik saya yang paling kecil, berupa buku alfabet yang penuh gambar dan warna.

Sampai disana, semua volunteers sedang mengikuti briefing, saya telat datang, alhasil ketika saya  baru duduk, semua orang bersiap untuk berdiri dan memulai kegiatan. Kami memulai kegiatan pertama dengan menjemput anak - anak yang rumahnya tidak jauh dari sekitar Lapak, saya sebelumnya tidak membayangkan kalau saya harus menjemput mereka, saya dan teman - teman volunteers lainnya membagi kelompok untuk menjemput mereka satu persatu, ada yang sedang bermain diatas pohon, berlari - lari, atau juga sedang berada di dalam rumah mereka masing - masing.





Apa yang saya hanya lihat di televisi, kini sedang saya jalani, saya bersyukur karena ini adalah bagian dari mimpi saya sejak dulu. Setelah terkumpul kami berjalan menuju Lapak, tempat dimana kami bermain sambil belajar. Sebelum belajar, kami bermain sebentar di sekitar Lapak untuk menghangatkan suasana sekaligus menjadi pengenalan bagi kami, volunteers baru, kepada anak - anak. Kami membuat lingkaran dan berpegangan tangan, bermain ayam - ayaman dan tikus kucing. Riuh suasana dan kami menjadi lebih dekat kepada anak - anak.

Setelah selesai, kami langsung masuk ke dalam Lapak dan melangsungkan kegiatan belajar mengajar, karena volunteers baru lumayan banyak jumlahnya sekitar 36, dan yang datang sekitar 30, sedangkan anak yang datang kala itu ada 27 orang, kami akhirnya masing - masing memegang satu anak. Saya sempat kebingungan karena tidak ada anak yang mendekati saya, dan akhirnya saya mendekati anak yang belum bersama volunteers, "Kamu mau sama aku ?" Tanya saya dibalas dengan anggukan. Ternyata nama nya Ting - Ting.




Waktu pembelajaran saya awali dengan mengeluarkan bahan ajar yang telah saya siapkan, ternyata Ting - Ting seketika mengambil buku alfabet yang saya bawa, dari sana saya menyadari bahwa memang anak - anak suka yang atraktif, yang berwarna dan penuh gambar. Ting - Ting memang sudah hafal alfabet dari a, b, c, d, e, tetapi ternyata ketika saya tes dengan mengacak alfabet, dia kebingungan, ternyata dia hanya hafal, tetapi tidak mengerti. Begitu pula dengan angka, dia hafal 1 hingga 10, tetapi dia tidak tau yang mana angka 1, 2, 3, dan seterusnya.

Akhirnya saya hanya memperkenalkan kembali alfabet dan angka - angka, dengan memberikan worksheet yang isinya mengikuti titik - titik, saya senang karena walaupun Ting - Ting tidak terlalu excited seperti anak yang lain, dia tetap mengerjakan apa yang minta untuk dia kerjakan. Dia juga terus meminta saya untuk memberikan dia worksheet yang mirip, tapi saya tidak membawa banyak, jadi kami hanya mengulang - ulang, berhitung, dan juga saya membuatkan dia gambar yang bisa Ting - Ting tebak ada berapa dan angkanya seperti apa.



Pada saat waktu belajar saya sempat bingung, karena Ting - Ting tidak excited dan dia juga tidak suka mewarnai, jikalau Ting - Ting lesu saya merasa tidak semangat, tapi saya mencoba untuk membangun suasana. Saya terus bertanya - tanya kepada Ting - Ting dengan menunjuk alfabet atau pun angka. Disana saya tersadarkan akan sabarnya guru mengajar dan ternyata energi murid juga terselurkan ke guru, jiakalau murid semangat, guru pun semangat, dan sebaliknya. Saya baru sadar, dan mengahrgai kerja keras guru. Akhirnya semakin mendekati zuhur anak - anak sudah bosan, dan akhirnya meminta untuk bermain game di handphone kami, berebutan, satu anak tertarik dengan game hijaiyah yang ada di handphone saya, Pinkan namanya. Akhirnya mereka bergantian.

Waktu yang ditunggu pun tiba, yaitu adzan dzuhur, ketika adzan Ting - Ting langsung bersemangat dan memegang tangan saya "Kak Putri ayo kita solat!" Berbeda sekali dengan wajah yang selama ini dia tampakkan ke saya, saya terharu sekali, pertama karena dia memegang tangan saya, kedua karena dia memanggil nama saya, ketiga karena dia bersemangat untuk solat. Indah rasanya.



Setelah dia mendapatkan mukenahnya, dia langsung menarik tangan saya dan menggenggam tangan saya, lumayan kencang. It felt so nice. Begitu pula dengan Pinkan. Holding hands yang punya kemistri bukan cuma pasangan kekasih yang punya. Kami bergandengan tangan sampai pada Masjid, di Masjid, saya menjumpai beberapa anak SMP yang sedang mengutak atik laptop, sangat serius. Kami, akhirnya berwudhu, anak - anak jadi basah seperti habis mandi.

Di atas kaum lelaki sudah berjamaah, kami yang tertinggal akhirnya solat sendiri - sendiri. Setelah solat kami bersalaman, dan kembali ke Lapak. Di Lapak Kak Ayu sudah menyiapkan kisa Nabi untuk diceritakan, anak - anak duduk mendengarkan, saya sempat pergi keluar sebentar kala itu, dan kembali ketika Kak Yanti membagikan beberapa hadiah untuk anak - anak yang berani maju kedepan dan juga yang rajin datang ke Lapak.

Setelah dibagikan, anak - anak pulang dan kami volunteers, tetap di Lapak untuk mengadakan evaluasi, membahas mengenai anak - anak satu persatu, sharing bagaiman kami harus menghadapi dan mengatasi anak - anak. Sangat berguna bagi saya pribadi untuk bekal masa depan mendidik anak - anak. Ahah, tapi serius, sangat bermanfaat.

Evaluasi selesai sekitar jam setengah 4, semua bergegas pulang. Hari itu saya membawa bekal pulang yang sangat berisi. Alhamdulillah

Kamis, 09 Maret 2017

My Woman



My mom is my biggest influence, she got something that is indescribable that I admire it so much, was born under a family that still cling firmly to its culture, Javanese, my mom has been so genuine for me. 

She likes to dance a lot, I mean random dance when she hears music which she can dance to. I love it.   And I think it came down to me, because I love to dance a lot. And she has a lot of code of conduct for living in the family for her children. I love the fact that she holds on to it. Because of that, I feel more guarded. 

She is the one who supports me when I feel like in the down side of my life, she gives me things / advices that no one would, I will give you the example : 

  • "If you feel stressed, go wash the dishes" What she means by that, when we wash the dishes it means we clean up the dirt, same we clean our soul from dirt. 
  • "In the morning, at 8 till 9 am, absorb the energy from the sun." You know it is good for our skin and soul ahahah
  • "After you woke up, immediately pray and be thankful to Allah." It is really, really, really day changer, when I speak within myself like, "Alhamdulillah, I am thankful to Allah for waking me up today, may this day be good and better than yesterday, and be happy." Then I sit, and starting the day with Bismillah, because if you start the day with a good mood it will lasts until the end of the day. 
She was there when I broke up, I was really really desperate back then, she is the one who lighted it up, I am thankful, even what she said was salty, but it is a medicine for me. 

Her voice calms me when I feel like I want to die, "No, it will be okay." That words from her feel like magic that gives me strength to live. She is the one who I hug everyday before school and transmigrating the energy between us. 

I am thankful to Allah for the best gift I ever got, my mom. I wish my mom happiness and longevity. I love you, Mamah.

Senin, 06 Maret 2017

Kamu itu Cantik

I have many thoughts within my mind, I think I should share it.

Back then when I was younger, I feel really really insecure about myself, my skin tone is darker than my siblings, I was always filthy, my nose is flat, my big brother told me that no man will like me. It was totally the worst feeling ever.

Have you ever experience it ? You must understand how I felt.

And I grew up with that mindset, that no man will like me. I was trapped with those words. 

Until came up to me the realization "Beauty is not something on the outer only, but also within". Because my mom always tell me something like that, "Beauty is within, if you can be happy with yourself, it will shines out of you, people will feel it, that is what you can call beautiful."

From that moment I try to change the way I think, I began to treat myself right, and always try to be  more positive about everything. I close both my ears for a talk that contains bad energy. I kept on focusing how to grow myself, into someone I really want to be. Someone who believe in the positivity of life. Someone who believe that everything is beautiful as it is.

I began to look up to people who I can feel the positivity inside them. I want to be like them, the people whom you just see and you can see something is glowing around her, their energy transmigrate to yourself. Have you ever met someone like that ?

Day by day, little by little, I changed the way I think, to look up in the bright side of what happened in my life. Have a little positive chit chat with myself in front of the mirror, dancing with myself everyday with my favorite music, having a notebook that I can pour out my thoughts, I call it "positivity book". I try to enjoy myself a little more, even when I in sorrow, I cry it out loud, say that I will be just fine, and smile! Pray to God, to make it easier. 

And everytime I feel uglier than other girls, I try to convince myself that I am not, because beauty is not a standard that owned by few people, but for me beauty is something that everyone has based on their uniqueness, everyone has their own uniqueness, that makes them different from others, so... I can not compare myself to others, I am me and you are you, we are different, but we are beautiful in our own way.

First I was just pretending, but then gradually I feel like I become it. More like, first you should force it but as time passing by you get usual, and you just adjust.

Now, I am more enjoyed about myself, I do take care of myself but I have principle that I don't want to change anything about myself, because it's Allah's gift for me that I should take care of it goodly. I love being natural. I like myself more day by day, I appreciate myself by letting myself feeling happy, feeling grateful with what I already have. Feeling beautiful about myself, well I think it is not narcissist but it is a privilege for every girl. Don't you think so ? 

And what I am doing right now is busying myself with activities that making myself grow, I don't really worry about a man that will come, like I used to, because back then I worried a lot about it, that no man will likes me, but you know what ? If someone ever spoke those words to you, believe me, that is not true. 

As long as you feel happy about yourself, and doing good things around, it is almost impossible that no one will likes you. If you haven't found that person yet, Allah knows best His servant, it is not because you are not pretty or such, but it is about time, and in this period of time I hope you fulfill this with activities that make you grow into a better person, I am myself also in that period of time, I wish us good luck!

My wish for you who are feeling unworthy, that you keep yourself in your support, and that insecurities won't make you feel small. We are greater that we think we are! I wish you find your own beauty and feel good about it without putting others, being happy even for now in your own, and support others to do so!

You are beautiful, if you don't feel the same way like I do right now, maybe you haven't found it yet, I hope you keep on finding that within yourself, beautiful.

Rabu, 15 Februari 2017

Liburan Sendiri ( pertama ) Putri !

Jadi, bermula dari Putri Ayu gabut sekali pada liburan akhir tahunnya. Dia ingin sekali tadabur alam sendiri tapi, yakin kalau dia ngga akan dapat izin kalau benar - benar seorang diri. Akhirnya Putri yang sok ide mendapatkan ilham untuk bertanya ke kakak kelasnya, ada apa ajasih di Malang ? dan karena di Malang masih banyak teman yang bisa di repotin especially my beloved friend disana, her name is Firyal ( insert love emoticon right here ) 

Dengan tekad ingin menemukan jati diri, dengan mengeksplor keindahan alam dan menyatu dengan alam (?) Putri akhirnya memutuskan ke Malang, dan mengontongi izin yang biasanya sulit didapatkan! Yuhu

Sedikit capek ya saya cerita kayak gitu...ganti - ganti.

Tanggal 26 Desember 2016, saya berangkat dengan hati yang jumpalitan rasanya, karena bahagia akhirnya diperbolehkan jalan sendiri. Seneng sekali, banget, entahlah mungkin lebih dari itu. Terimakasih saya ucapkan for both my parents yang telah mempercayaiku.

Tiba di Malang, saya langsung naik taksi untuk menghampiri Firyal di Batu. Sempet takut, karena ini pertama kali, tapi alhamdulillah Bapak supirnya baik sekali, dimulai dari saya lupa taruh dompet, sampai pada Beliau sabar dengan kemacetan menurut Malang. Sepanjang perjalanan saya mendengarkan percakapan beliau dengan rekannya lewat mikrofon yang entah apa namanya di taksi itu. Rekannya seperti mengingatkan untuk jangan lewat jalan yang kita tempuh, tapi Bapak tersebut membalasa dengan, "Ya ngga apa - apa, kita jalani saja, ya kalau macet mau diapakan, dinikmati saja." Entah kenapa kata - kata itu menggugah dan tertanam di benak saya. Sampai sekarang.

Tiba di Batu, saya disambut oleh Kakek Firyal, yang saya kira Omnya karena terlihat muda. Beliau sangat baik dan mengizinkan saya untuk tertidur sebentar di ruang atas, sambil menunggu kedatangan Firyal. Setelah saya terbangun, pas sekali Firyal datang. Dan tidak lama setelah saya bertegur sapa dan berbagi cerita dengan kerabat Firyal, saya beserta Firyal dan beberapa dari anggota keluarganya pulang menuju Watumujur. Disana saya tertidur lelap menunggu keseruan esok hari ditemani Firyal!

Keesokan harinya saya ditemani wanita baik hati bernama Firyal untuk berkeliling sekitar Malang, saya datang ke Malang tanpa rencana kemana. Saya hanya membiarkan pada takdir yang akan membawa saya kemana. Saya ingin ke Wisma Tumapel, tapi ternyata wisma tesebut sedang dalam pembangunan, it was sad. Tapi setelah saya curhat sama mas gojek, kalau saya juga ingin ke Jodipan, dia langsung menawarkan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Jodipan dengan hanya membayar dua ribu rupiah, nice deal.


Yang saya foto bersebrangan dengan Jodipan mirip tapi, kampung sebelah ini merupakan kampung 3D. Panas tapi happiness was deeply felt.

Pada malam harinya saya mengunjungi Paralayang, it was very cold, tapi pemandangannya cantik. 


Dari satu hari di Malang, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa orang - orang Malang, atau yang tinggal di Malang, sangat ramah. Dimulai dari Bapak Taksi, Mas Gojek, dan Mas yang mengantar saya dan Firyal selama perjalan sore ke malam, kami menyewa mobil dan Beliau sebagai supirnya, sangat ramah, dan seperti kenal lama. Dari sana saya pergi ke Batu Night Spectacular dan juga alun - alun Kota Batu. Menjelang pagi kami baru sampai, dan langsung merebah pada kasur dan tertidur. 

Pada hari kedua, kali ini tour guide saya Kak Rama, my Senior High senior (?). No plans, akhirnya setelah kebingungan, Kak Rama had an idea untuk kita ke Coban Rais, it was really, really, really nice I could say karena Dia bilang, perjalanan 1 KM itu hampir mirip seperti perjalanan menuju puncak gunung. Karena saya belum pernah naik gunung dan sangat mendambakan sekali perjalanan tersebut. 

Di sepanjang jalan, saya sangat amat senang. I can't even describe how it was. Saya sangat amat senang dikelilingi daun hijau, udaranya pun segar dan suara air yang mengalir, indah rasanya untuk memikirkannya kembali saja. 

Perjalanannya cukup panjang dan berliku, saya harus melewati beberapa sungai kecil yang berbatu, dan tanah yang licin, tapi ditemani dengan suara suara alam, siapa yang tidak terpana ? Saya menikmati setiap liku perjalanan. Saya tidak merasa lelah, karena apa yang hadir kala itu, seolah melebihi rasa lelah saya. Walaupun saya selalu bertanya pada Kak Rama, kapan kita sampai ? Dan accusing him that he was lying about that 1 kilometer. Ahaha maafkan.




Saat sudah sampai, saya dan Kak Rama duduk sebentar dan menikmati pemandangan air terjun yang sangat tinggi, airnya dingin dan jernih. It was nice, but I was more enjoyed mengenai perjalanan yang kami tempuh. Tidak lama setelah kami sampai, berfoto, dan menikmati sebentar. Kami langsung kembali. Sebelum berangkat ke tempat yang lain, saya dan Kak Rama istirahat sebentar di warung kopi disana saya bertemu dan had a nice talk with Mba yang saya lupa namanya. It was nice to talk with her. And after that, walaupun waktu sudah hampir sore, tapi saya masih ingin menjelajah, entah kemana. Dan akhirnya saya putuskan untuk ke sumber air, Sumber Jenon namanya. 

Jarak antara Coban Rais dan Sumber Jenon, sangatlah jauh. Letak mereka sangat bertolak belakang, yang satu di atas dan yang satu di bawah. Tapi Kak Rama, mengiyakan permintaan saya. I was thankful. 

Selama perjalanan dengan menggunakan motor Kak Rama, walaupun sakit rasanya ( you know what I mean ) tapi I totally enjoyed it, udara Malang sangat segar, dan pemandangan gunung selama perjalanan sangat membuat kupu kupu di hati. Hamparan tanaman dan padi disekitar perjalan juga menjadi hiburan dan penyegar bagi hati dan mata. If you could see my face in the entire trip, I was smiling so brightly! Melewati rumah - rumah warga yang sepi, wangi, dan udaranya segar, damai sekali.

Sampai pada Sumber Jenon, tempatnya sangat sepi tidak banyak pengunjung, entah memang seperti itu selalu atau hanya pada hari itu saja. Pada pertamanya saya dan Kak Rama sedikit kecewa, well, sepertinya cuma Kak Rama, karena keadaan asli dan yang difoto jauh berbeda, karena yang ada pada foto sangat sparkling airnya. Ahahah I am the fool one kayaknya ya, karena percaya dengan foto. Tapi tidak sepenuhnya mengecewakan, karena ketika saya mendekat pada sumber airnya, airnya berwarna hijau, dan yang membuat saya terpana adalah, di dalam kolam tersebut masih ada ikannya! Ahahah saya tau, saya norak, tapi yang membuat saya terpana adalah ada beberapa orang yang berenang disana, dengan ikan - ikan tersebut! Saya terpana pun takut karena ikannya cukup besar. Tapi pada akhirnya saya menyelupkan dua pasang kaki saya, airnya dingin. Tak lama, Kak Rama akhirnya ikut menyelupkan kaki - kaki nya. We had a talk ditemani dengan suara petikan gitar dan senandung dari beberapa pengunjung yang sepertinya sekolompok teman, disana. It was nice, saya mau lagi!


Sebelum matahari terbenam, kami harus kembali, karena takut jikalau harus pulang dengan keaadan jalanan yang gelap. Alhamdulillah kami sampai kota dengan matahari hampir benar - benar terbenam.  



Dalam perjalanan, saya melewati pasar tradisional, yang pemandangannya semenakjubkan ini! Allah bless Malang. Setelah sampai kota, saya dan Kak Rama mampir pada tempat kopi, disini banyak, dan harganya sangat amat terjangkau, untuk satu gelas kopi, cukup kamu keluarkan tiga belas ribu rupiah. Hampir 1/3 dari harga kopi di Jakarta! Oiya makanan di Malang selain enak juga murah, dengan lima ribu, saya pernah mendaptkan satu piring nasi dengan satu potongan ayam juga tahu dan timunnya! Ini ada di Nelongso namanya.

Setelah mampir, saya diantar pulang, dan had a chit chat with Firyal! We then sleep after had a talk.

Keesokan harinya, saya dan Kak Rama, lagi, lagi, memutuskan untuk ke Pantai Bantol. Pantai Bantol termasuk pantai yang jarang dikunjungi, saya suka hal - hal yang belum banyak orang tau. Perjalanannya sekitar 2 jam, kami harus menempuh 64 KM, sekarang saya baru menyadari bahwa itu jauh. Tapi perjalanan yang saya tempuh benar - benar mengasyikan, saya melewati hamparan bukit hijau, terasering, perumahan warga, hal itu terus berulang, sampai pada akhirnya kami menghentikan perjalanan karena kami kehilangan navigasi, sulit untuk ke Pantai Bantol, karena tidak banyak orang yang tau, bahakan orang Malangnya sendiri juga tidak banyak yang tau dan juga akses untuk ke pantai tersebut masih sulit, jalannya masih bebatuan dan haus melewati hutan jati. Saya berhenti untuk bertanya, namun yang saya tanya benar orang tua Malang, jadi Beliau menjawabnya dengan bahasa Jawa yang saya tidak mengerti. Tapi sepertinya Kak Rama mengerti, tapi still we didn't get the way. Dan pada akhirnya kami sampai pada Pantai Ngliyep.



It was nice to discover around the beach, karena setiap sudut gambaran yang saya lihat berbeda -  beda, dari satu sisi ombak pantainya tidal terlalu kencang, tapi disisi lain berbeda. 




Setelah menjelang sore kami kembali pulang dan melewati jalan yang sama dan mengarungi waktu yang durasinya hampir mirip. Lalu saya pulang dan bertemu dengan beberapa teman. We had a good talk with much laughs. That was the last night saya di Malang. Karena besoknya saya harus pulang ke Jakarta.

It was really great experience for me, that trip was the first trip I went alone without my family member. Unforgettable trip!

Doesn't Really Matter

People these days, sure easily talk about others. Wether it is in social media or in the real life. But mostly on social media, people th...